Jangan menjadikan dirimu sebagai PLAGIAT !!! Hargai karya orang lain :)

Senin, 23 November 2015

Surat Untuk Masa Lalu

“Alasanku bisa bangkit kembali adalah sebuah penyesalan”

Beberapa bulan yang lalu, berjuta detik yang lalu peristiwa itu terjadi. Peristiwa yang kutakutkan. Kata yang sangat pantang kuucap pada sebuah hubungan. Putus. Kata itu terlontar dari mulutku dengan berjuta alasan yang menyertai. Sungguh tak pernah kusangka bagaimana aku bisa mengatakannya padamu...pada pria yang sangat ku cinta, sangat ku banggakan.

Tuan.....bagaimana kabarmu sekarang? Sudah menemukan sosok yang baru? Sudah menemukan kebahagiaan yang baru? Bagaimana rasanya? Lihatlah bagaimana aku masih peduli padamu, tuan. Hatiku masih menyimpan dengan baik sosokmu yang kini menjadi (mungkin) milik seseorang. Memang sedikit menyesal ketika aku memutuskan untuk berpisah dan berjuang di jalan masing-masing. Aku sedikit khawatir apakah kamu yang selalu berkata mecintaiku akan menemukan kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan yang kuberikan padamu. Aku juga selalu berpikir bagaimana bisa aku melewati hari menyapa matahari dan rembulan tanpamu lagi. Dua ribu duabelas hingga dua ribu lima belas sosokmu masih tetap menyeruak dalam jiwaku. Sosokmu juga masih mencuri perhatianku setiap hari. Kamu ingat bagaimana ketika kita sedang beradu mulut? Kau ingat bagaimana kita saling mengalah? Ingatkah berapa banyak kenangan yang telah kita bangun selama beberapa bulan terakhir ini? Kenangan itu selalu membuatku rindu, semakin pilu.

Tapi yasudahlah. Semua telah berlalu. Aku telah melepas tali yang melilit tubuhmu yang kecil itu. Aku juga sudah merusak kekokohan benteng yang menjadikanmu tertahan menghalangi segala tindakanmu. Aku telah merelakanmu untuk mencari kebahagiaanmu sendiri dan berhenti menjadikanmu “boneka” yang selalu membahagiakanku meskipun luka tergores pelan dalam hatimu. Aku berusaha sebisa mungkin membiarkanmu pergi mejelajah duniamu yang baru tanpa sertaku. Sekarang kau bebas, sekarang kau bisa berbuat dan melakukan apa yang kau inginkan tanpa ada suara rengekanku lagi.

Beberapa hari yang lalu, aku dengar kabar dari seseorang. Ku dengar kau sudah mendapatkan pengganti untuk posisiku. Bagaimana dia? Baikkah? Kata seseorang dia adalah gadis mungil nan lucu. Parasnya tak jauh beda denganku. Pipi tembem dan mata yang sipit merupakan ciri khas sosok gadis yang sedang mencoba mengambil alih posisiku (dulu). Aku tahu dia mungkin tak sebaik aku. Atau mungkin sebaliknya. Percayalah siapapun dia bagaimanapun dia, dia selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu, mencoba selalu ada ditiap langkahmu. Jadi kumohon jangan pernah kau kecewakan dan hanya memberi harapan kosong padanya. Sekarang yang dia tahu hanyalah cinta padamu. Dia belum tahu bagaimana sikap dinginmu yang terus membekukan keadaan, dia belum tahu bagaimana sikapmu ketika perhatian telah terbagi, dia belum tahu bagaimana sakitnya merasakan sepi yang berusaha menyelimuti. Bergantinya status “kita” bukan berarti putusnya ku berdoa, kelak sosok ini akan merubahmu menjadi pria manis nan berwibawa, kelak sosok ini akan terus mencurahkan segala perhatian, dan sosok ini lah yang akan selalu mengerti bagaimana kesibukkanmu menjalani hari. Dari sekian banyak harapan yang kuucap sebuah kalimat dalam doa tak pernah luput ku lantunkan “Semoga hanya aku yang bisa membaca segala keburukanmu”

Salam,

Gadismu (dulu)

10 komentar: