Jangan menjadikan dirimu sebagai PLAGIAT !!! Hargai karya orang lain :)

Selasa, 27 Agustus 2013

First Book :)

Alhamdulilah….buku pertama karyaku sudah terbit dibulan Juli 2013 oleh Alif Gemilang Pressindo di Jogjakarta. Walaupun bukan novel tapi merupakan langkah awal yang mengesankan dalam penjajakan bakatku.
Awal cerita, AGPressido mengadakan lomba cerpen dengan tema yang ditentukan. Iseng-iseng ikut ajalah coba menilai karya cerita lewat lomba. Dalam kompetisi ini aku tidak pernah berfikiran kalau ceritaku bakal lolos untuk dibukukan, karena ini adalah pengalaman pertama, peserta yang mengikuti kompetisi ini cukup banyak, dan tata bahasa asing yang ku gunakan juga belum begitu benar; ku rasa.
Tapi ternyata SALAH!!! Saat pengumuman lewat catatan facebook nama ku tercantum di sana. Engga nyangka itu cerita bakal lolos seleksi dari sekian ratus peserta yang mengikuti lomba ini.
Setelah berbulan-bulan nungguin terbitan buku pertama, akhirnya tuh buku terbit juga. Gini covernya. Simple sih tapi yaaaaa bangga dong karya uda ada yang nerbitin :D


Karena penjualan buku ini terbatas, bagi kalian yang ingin membeli bisa lewat online.
TELAH TERBIT:
Judul : KETIKA CINTA BERSEMI
ISBN : 978-602-7692-40-4
Tebal : 210 Halaman
Harga : Rp. 42.000,-
Penulis : Ragil Kuning and Friends


Untuk Pemesanan Silakan ketik:
KCB#Nama Lengkap#Alamat Lengkap#Jumlah#Nomor HP Kirim ke 0878 260000 53
atau Silakan Inbox kami


================

Musim semi kali ini menghantarkanku padamu. Bukankah ini yang menjadi impian masa kecil kita? Aku bahagia karena pada akhirnya bisa kutatapi kembali wajah tampanmu setelah jarak sekian tahun memisahkan kita. Kini, dapat kurasakan lagi detak jantungmu ketika kusandarkan kepala ini pada dada bidangmu. Rama, sungguh aku merindukanmu.
Tapi ... bisakah kau pinta waktu untuk berhenti sejenak, Rama? Karena aku tahu kalau waktu yang kian berjalan pada akhirnya akan menimbulkan luka di hati kita. Aku tak mau itu terjadi.
Rama, di Colmar inilah aku berharap melepas ‘lelah’. Negeri impian ini nyatanya bisa kujajaki walau akhirnya aku pun harus kembali dengan sejuta rasa yang tertahan di hati. Bagaimanapun aku menyadarinya, Rama. Kita bukan sedang hidup di negeri kisah Ramayana, dimana Rama-lah yang akan selalu menjadi pemenang di hati Shinta. Senyatanya, kita ada di dunia nyata yang kadangkala harus bisa kita jalani dengan luka.

Kamis, 11 Juli 2013

Aku Merindukanmu, Ma

“Kesepian itu berasal dari hati dan perasaan, bukan suasana yang sebenarnya”

Seperti hari-hari sebelumnya, aku berjalan melewati koridor kelas dengan cuek. Langkahku terus maju, tak peduli dengan segerombolan murid yang mengaku “gaul” yang selalu mengeksistensikan dirinya, seolah-olah merekalah orang terpopuler di sekolah ini. Terdengar bisikan nakal seorang anak ekstrakurikuler dance yang sampai pada telingaku saat aku lewat di depan mereka. “Eh si idiot tuh!” Seorang perempuan juga ikut mengguman, “Kasihan ya, efek ditinggal ibunya meninggal jadi anak aneh.” Aku tak mempedulikan apa yang mereka katakan, karena mereka tidak mengenalku, mereka hanya memandangku, hanya sekedar ‘tahu’.
Aku melangkah pasti menuju sebuah ruangan dengan mendekap erat beberapa buku tebal yang menghangatkanku. Aku berhenti di depan pintu berwarna abu-abu dengan daun pintunya yang mulai memudar dan mulai memasuki ruangan itu. Baunya sangat khas, bau buku perpustakaan sungguh klasik.
“Elsa! Kamu tidak masuk kelas?” Suara Bu Fima, penjaga perpustakaan sekolah mengagetkanku saat aku menulis nama daftar pengunjung perpustakaan.
“Tidak Bu. Saya sedang suntuk, jenuh, bosan dengan suasana kelas.” Jawabku singkat sambil menata buku-buku yang akan kukembalikan.
“Apa tidak dicari guru yang mengajar di kelasmu?”
“Entahlah. Saya tidak peduli, lagian saya tidak membolos jajan ke kantin atau keluar sekolah. Saya berada di perpustakaan.”
“Kamu kelas 12 Akselerasi kan? Kok tidak semangat belajar? Padahal sudah mendekati ujian lho!” tutur kata beliau yang lembut mencoba menasihatiku.
“Memang tidak Bu. Saya dipaksa mengambil program ini oleh Papa. Terkadang sesuatu yang dilakukan dengan keterpaksaan mampu menyenangkan hati seseorang, orang tua.”
Aku menuju ke sela-sela tumpukkan buku-buku yang disusun rapi. Beberapa menit aku mengamati, sebuah buku sastra menjadi sarapan pagiku hari ini. Inilah yang kusuka, sendiri dengan duniaku. Aku sering merasa pusing ketika dalam suasana kebisingan dan keramaian. Aliran darahku seperti terhambat, tidak lancar seperti sebelum-sebelumnya. Setelah mama meninggal dunia waktu itu, aku suka menyendiri, meyibukkan hari dengan duniaku sendiri dan mencari jalan bagaimana aku bisa bahagia dengan caraku sendiri. Sungguh menyakitkan ketika semua orang menganggapmu lalu, begitu saja, bagaikan patung pajangan disudut ruangan berdebu.
Bu Fima mentapku dengan iba. Mungkin dia mengucap “Aku tak tahu seperih apa penderitaan gadis ini. Dia berusaha tegar menatap dunia ketika dunia itu menekannya semakin dalam”

---

Seperti biasanya setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah bibi selalu menyiapkan sarapan favoritku; telur dadar. Aku menhampiri ruangan papaku. Tiba-tiba saja aku merindukan kebersamaan bersama papa. Aku mengetuk pintu.
Ada seorang wanita berambut panjang yang membukakan pintu kamar papa, “Papamu masih tidur.”
Aku hanya mengernyitkan dahi.
Siapa lagi wanita ini? Setiap kali aku mengetuk pintu kamar papa selalu ada wanita yang berbeda yang membuka pintu kamarnya. Higga aku tidak tahu siapa nama wanita itu satu-satu atau mungkin memang aku tidak ingin tahu siapa mereka.
Semenjak waktu itu papa semakin berubah, bahkan aku mulai tidak ingin mengakui dia adalah papaku. Aku tidak peduli.

---

Hari ini pelajaran yang menjadi momok bagiku terus menyerangku. Matematika. Aku memutuskan pulang karena aku merasa tak enak badan; toh tak ada yang peduli ketika aku meninggalkan kelas itu.
Mobil jaguar berwarna hitam tiba di depan sekolah ketika aku berjalan keluar dengan Bu Tias penjaga UKS yang memegangi tanganku. Aku meminta supirku untuk mengantarku ke sebuah tempat. Tempat favoritku, tempat aku bertemu dengan mama.
“Kemana Non?” Tanya Pak Parto sambil menatap lurus memamandang jalan.
“Ke tempat biasa Pak”
“Apa tidak sebaiknya Non pulang dahulu? Wajah Non sangat pucat.” Pak Parto mulai mengkhawatirkan keadaanku.
“Tidak apa-apa Pak. Oya sebelum tiba di sana mampir ke toko bunga seperti biasanya ya! Aku ingin membelikan bunga yang segar dan harum untuk mama.” Pintaku.
“Baik Non.”

---

 Mamaku adalah seorang wanita yang nyaris sempurna. Matanya bundar, parasnya yang ayu, sikapnya lemah lembut, hati yang mulia, sungguh makhluk Tuhan tiada cela. Hanya orang idiot yang tega mengkhianati perasaanya; papaku.
Kali ini pandanganku kosong menatap mama. Aku mengusap-usapnya dengan lembut sambil berusaha untuk tersenyum. Aku bercerita banyak hal, tentang sekolah, perkembanganku, kegemaranku yang baru, dan tentang ketertarikanku terhadap seseorang. Aku sama sekali tidak pernah menceritakan wanita jalang itu (ibu baruku), aku tidak ingin membuat mama menangis, karena papa telah memilih orang yang salah sebagai pengganti mama. Tapi sepintar apapun aku menyembunyikan cerita itu, mama pasti tahu; lebih dari apa yang aku tahu.
Aku membersihkan rumput-rumput liar yang kian memanjang setiap hari di atas tanah basah itu. Kutaburi bunga-bunga yang beraroma lembut ketika angin menerpa. Lantunan doa tak pernah luput ku ucap. Untuk kesekian kalinya aku mencium nisan mamaku.


much love
wnd :)

Kamis, 09 Mei 2013

Alun-Alun Kota


 
“Apa yang kau inginkan, tidak selalu kau butuhkan. Apa yang kau cintai, tidak selalu membuatmu lebih bahagia. Bersyukurlah!”

Perfecto!!
Untuk kesekian kalinya, Danny bertemu dengan wanita itu. Wanita yang sempurna. Matanya, hidungnya, bibir tipisnya, tubuhnya, hijab yang ia kenakan, semuanya, seakan tak ada cela pada dirinya. Ya semua yang ada pada wanita itu membuat hati Danny luluh, membuat otaknya berhenti bekerja, membuat dunianya berhenti untuk beberapa saat. Ia hanya bisa mengamati wanita itu dari kejauhan dengan sesekali mengambil gambar wanita yang membuat Danny terpesona secara diam-diam. Seandainya ia dapat melihat wanita itu lebih dekat, seandainya ia dapat menyentuh wanita itu dengan jemari tangannya. Danny hanya bisa mendengus pelan ketika ia sadar bahwa itu adalah hal yang tak mudah.
Danny masih tetap mengambil gambar wanita itu diam-diam, walaupun hanya tampak punggung dan hijab yang ia sampirkan. Paras ayu-nya tak terlihat secara mata, karena Danny berdiri jauh, sangat jauh dari orang yang membuat Danny tak bisa tidur beberapa minggu terakhir.
Lampu-lampu taman dan beberapa lampu warna kelap-kelip yang tergantung di pohon beringin alun-alun kota menambah keelokan suasana malam. Orang-orang sangat bersemangat menghabiskan malam bersama keluarga, teman-teman, ataupun seseorang yang dicintainya. Danny sangat menyukai fotografi. Terlebih jika street fotografi, jadi ia terus memotret dan memotret apapun yang menurutnya itu adalah keadaan yang sangat indah dan patut untuk diabadikan. Danny sangat menggilainya, tapi wanita itu mampu membuat ia lebih gila.
Lagi-lagi wanita itu menghilang. Danny kehilangan sosok yang telah membuatnya salah arah. Ia harus menunggu lagi dan lagi. Ia harus kembali lagi setiap hari karena ia tak tahu pasti kapan wanita itu mengunjungi alun-alun kota seperti hari ini (lagi).
Menunggu, adalah salah satu bentuk perjuangan bukan? Wujud cinta adalah kesabaran. Tak pernah ada yang menyalahkan ketika seseorang menunggu sesuatu atau siapapun. Jadi Danny terus menunggu wanita itu hingga waktu yang akan mempertemukan mereka kembali. Ia tak merasa jenuh ataupun kesal dengan apa yang telah ia lakukan. Karena ia sangat yakin bahwa tiap tindakan yang dilakukan pasti membuahkan hasil. Danny tetap saja bertahan dan menggantungkan harapan pada seorang wanita yang ia; bahkan tidak tahu namanya. Menyakitkan kadang; tapi ia selalu berusaha mengalirinya dengan keikhlasan sepenuh hati, demi wanita itu, demi dirinya sendiri, demi cinta yang ada dalam hati kecilnya.
Dia tak tahu harus berbuat apa lagi untuk mengusir segala resah yang mengganggunya, membakar habis rindu yang selama ini telah menjerat kehidupannya, hingga ia menatap seseorang berpakaian biru yang memegang sapu lidi, memakai topi serta masker pada wajahnya, dan pada mobil yang ditumpanginya bertuliskan “Dinas PUPPW Kabupaten Tulungagung”.

---

“Apa? Jadi PUPPW?” Suara lantang itu jelas terdengar. Pak Sukar sangat kaget dengan apa yang Danny tanyakan.
“Iya Pak, bisa kan?”
“Tapi Nak Danny, Sampean iki isih enom, masih bisa menjadi pemuda yang lebih sukses lagi. Gaji pemula tidak banyak di sini, Nak,”
“Saya tidak mengejar kesuksesan ataupun gaji itu Pak!”
“Lantas napa to le?”
“Ini lebih penting dari gaji, Pak!” Danny mencoba lebih meyakinkan Pak Sukar untuk menerimanya sebagai PUPPW.
Opo sing sampean kejar?”
“Cinta,”

---

Matahari baru saja beranjak pergi. Malam ini seharusnya malam yang cerah penuh kemilau cahaya bintang yang berserakkan dan sinar terang sang rembulan. Awan kelam yang tertiup angin menyembunyikan segala keindahan langit malam. Tapi keadaan yang sedikit mengecewakan ini tak dipedulikan sedikitpun oleh Danny yang masih—tetap bersemangat dengan pekerjaan barunya. Seragam biru dan topi yang ia kenakan cukup membuat ia bahagia untuk malam ini.
Danny semakin rajin bekerja membersihkan tiap sudut alun-alun kota. Dengan goyangan tangan memegang sapu lidi yang tinggi ia terlihat sangat ahli dalam pekerjaannya kali ini.
Wanita itu pasti akan datang ke alun-alun ini lagi. Walau hanya duduk sambil menikmati air mancur atau jalan-jalan di atas bebatuan kecil yang disusun rapi. Danny masih yakin dengan apa yang ia fikirkan tentang wanita itu.
Danny tetap terjaga sambil membersihakan sedikit sampah yang berserakan tampak gelisah. Ia melirik jam tangannya untuk kesekian kali. Pukul 21.00. tapi wanita itu belum terlihat. Ia mengusap dahinya dan menghela nafas panjang. Jantung Danny berdetak lebih keras. Wanita itu.
Kali ini jarak mereka sangat dekat. Hanya beberapa centimeter.
“Permisi Mas, nitip sampah ya!” Ucap wanita itu dengan lembut.
“Oh iya,”
“Mmm..sepertinya saya pernah melihat Anda. Tapi bukan sebagai petugas sampah. Ada kamera yang tergantung pada leher Anda,” Kata wanita itu dengan penuh kecurigaan.
“Mungkin Mbak salah lihat,” Dengan gengsinya Danny mengelak pernyataan wanita itu, wanita yang semakin membuatnya jatuh. Jatuh cinta.
“Oh begitu. Mungkin saya salah lihat,”
“Anda rajin datang ke sini ya?”
“Iya Mas,” Jawabnya singkat.
“Sendirian?”
Pertanyaan Danny kali ini adalah ‘modus’. Ia memastikan wanita yang berhadapan dengannya kali ini memang benar-benar sendirian.
Ketika wanita itu hendak membuka mulut menjawab pertanyaan yang Danny sodorkan, tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri. Mulut anak itu belepotan, penuh dengan es krim yang ia pegang dengan tangan kanannya dan seorang pria bertubuh ideal, tinggi serta menawan berdiri sambil tersenyum melihat anak kecil itu berlari menghampiri wanita yang sedang berhadapan dengan Danny.
“Ma…Mama..mulut adek belepotan es klim, bersihin dong Ma!” Ucap anak itu dengan manja.
Danny tertegun mendengar apa yang diucap seorang anak kecil itu. Kaki tangannya mendadak lemas. Ia merasa pusing, seakan darah dalam tubuh memancar keluar tanpa sisa. Dadanya sangat sesak, paru-parunya terasa berhenti tak berfungsi. Ia tak bisa bernafas. Belum sempat Danny mengatur pernafasannya kembali seorang pria-yang-tadi-berdiri-dibelakang-anak-kecil-itu-sambil-tersenyum mendekat dan meraih anak itu kemudian mengayunkannya. Mereka sangat bahagia.
Wanita itu meninggalkan Danny sambil tersenyum. Apa yang dapat Danny perbuat? Tak ada. Ia tak bisa apa-apa sekarang. Ia hanya bisa memperhatikan wanita itu beranjak bersama seorang pria yang merangkul bahunya dengan mesra dan anak kecil yang berlari-lari kecil di depan mereka.
Danny menyandarkan tubuhnya, ia sudah tak kuat lagi menopang, bahkan untuk memunguti hatinya yang berantakanpun ia tak sempat.

Kamis, 18 April 2013

Menyesakkan (2)



Cerita Sebelumnya : Menyesakkan (1)

Duduk diam sambil menikmati suasana yang mendung di taman ini memang tidak begitu menyenangkan. Apalagi segala bunga warna-warni ini terus memaksaku untuk mengenang dan mengingat kala itu. Semut-semut yang berbaris rapi di tepi bangku yang aku duduki berbisik kecil tentangku yang terlalu bodoh untuk menunggu orang yang tak pasti. Kupu-kupu yang setiap hari berterbangan di atas bunga itu juga ikut menertawakanku. Aku masih mengingatnya betul bagaimana sikapmu terakhir kali bertemu di sini. Kamu meninggalkan dan mencampakkanku begitu saja. Tak ada salam perpisahan ataupun sekedar menolehpun kamu enggan. Seperti biasanya dan seperti yang kamu katakan, aku menunggumu setiap sore di sini. Walaupun aku tidak tahu kapan kamu akan menyadari kehadiranku untukmu.

Berjam-jam; sejak sepulang sekolah tadi aku tetap berada pada bangku yang dulunya adalah bangku tua favorit kita. Menunggu memang sangat membosankan. Tapi menunggu untuk seseorang yang kita cintai? Setidaknya masih bisa dikatakan menyenangkan. Aku masih sibuk dengan fikiranku yang terus menghibur diriku sendiri dan selalu berfikir positif terhadapmu, tentangmu.

“Sudah lama?” Suara itu sangat kukenal dan aku yakin suara ini adalah suara pria itu. Pria yang meninggalkanku sendiri, pria yang (juga) mencintai sahabatku, pria yang kutunggu.

“Tentu,” Jawabku singkat.

“Maafkan aku, telah membuatmu menunggu lama,”

“Tak apa. Aku lebih suka menunggumu kembali daripada harus menunggumu untuk pergi,”

“Maafkan aku Alice. Aku sadar sekarang,”

“Dua kali kamu sudah minta maaf, untuk apa lagi sekarang?

“Seharusnya aku tak perlu mencintai dia. Karena aku sudah memilikimu,”

“Lalu?”

“Aku ingin kamu kembali bersamaku. Melupakan pertemuan kita beberapa hari yang lalu. Menganggap peristiwa itu hanya sebuah mimpi,”

Keheningan mulai merambati suasana sekitar aku dan Jo. Kami diam hingga beberapa menit. Tak ada kata yang terucap, tak ada tindakan yang perlu ditunjukkan. Diam seperti patung.

Aku berusaha keras berpikir bagaimana aku menanggapi pria ini. Pria yang terlalu kejam, pria yang sering melukaiku, pria yang masih tetap aku cintai. “Mudah sekali kamu berkata seperti itu?”

“Apa aku salah?”

“Aku tidak menyalahkanmu, aku bertanya padamu. Kamu fikir aku boneka yang tak pernah mempunyai hati dan perasaan? Yang tak pernah tahu bagaimana sakitnya ketika kamu mengucap kata itu? Yang tak pernah tahu bagaimana rasanya bahagia di saat bersamamu? Aku tidak bodoh, Jo!!”

“Apa yang harus kuperbuat sekarang?”

“Kamu bertanya padaku? Ku fikir kamu cukup pintar menyakiti perasaan seorang wanita, tapi kamu terlalu bodoh memahami perasaanmu sendiri. Sudahlah Jo, aku tidak ingin seperti  ini,”

“Aku serius dengan apa yang kukatakan padamu, Alice. Aku tidak berbohong,”

“Aku juga serius, Jo,”

Tiba-tiba pria itu mendekapku. Hangat. Masih hangat sama seperti dekapannya kemarin. Beberapa bulan yang lalu. Aku merindukan saat-saat seperti ini. Sungguh aku merindukannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku suka dia memelukku seperti ini.

“Maafkan aku. Sungguh aku minta maaf padamu. Aku memang begitu kejam. Maafkan aku,” bisiknya pelan menggelitik telingaku.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?” Aku mencoba melepaskan diri dari dekapan hangatnya secara perlahan.

“Tak banyak. Kamu,”

“Bohong!”

“Aku jujur. Aku tidak sedang berbohong sekarang,”

Bola matanya menatapku dengan tegas. Mencoba menjelaskan kepadaku tentang kejujuran yang telah ia ungkapkan. Aku semakin gila karenanya. Akupun terlalu takut untuk kehilangannya, membiarkannya pergi bersama orang lain, membiarkannya meraih masa depan tanpa aku yang berada di sisinya, dan membiarkannya hidup tanpaku. Keadaan mulai memanas. Aku lemah akan pikiran dan perasaanku padanya.

“Aku masih mencintaimu, Jo!”

“Aku juga. Jadi biarkan aku bersamamu. Bertanggungjawab atas kesempatan yang kamu berikan padaku kali ini,”

Suasana senja kali ini cukup berbeda. Matahari terbenam sangat sempurna, langit semburat kuning dan oranye yang menyala menambah keelokannya. Aku berteriak lantang dalam hatiku bahwa Aku mencintainya…sungguh :’) - END