Jangan menjadikan dirimu sebagai PLAGIAT !!! Hargai karya orang lain :)

Kamis, 11 Juli 2013

Aku Merindukanmu, Ma

“Kesepian itu berasal dari hati dan perasaan, bukan suasana yang sebenarnya”

Seperti hari-hari sebelumnya, aku berjalan melewati koridor kelas dengan cuek. Langkahku terus maju, tak peduli dengan segerombolan murid yang mengaku “gaul” yang selalu mengeksistensikan dirinya, seolah-olah merekalah orang terpopuler di sekolah ini. Terdengar bisikan nakal seorang anak ekstrakurikuler dance yang sampai pada telingaku saat aku lewat di depan mereka. “Eh si idiot tuh!” Seorang perempuan juga ikut mengguman, “Kasihan ya, efek ditinggal ibunya meninggal jadi anak aneh.” Aku tak mempedulikan apa yang mereka katakan, karena mereka tidak mengenalku, mereka hanya memandangku, hanya sekedar ‘tahu’.
Aku melangkah pasti menuju sebuah ruangan dengan mendekap erat beberapa buku tebal yang menghangatkanku. Aku berhenti di depan pintu berwarna abu-abu dengan daun pintunya yang mulai memudar dan mulai memasuki ruangan itu. Baunya sangat khas, bau buku perpustakaan sungguh klasik.
“Elsa! Kamu tidak masuk kelas?” Suara Bu Fima, penjaga perpustakaan sekolah mengagetkanku saat aku menulis nama daftar pengunjung perpustakaan.
“Tidak Bu. Saya sedang suntuk, jenuh, bosan dengan suasana kelas.” Jawabku singkat sambil menata buku-buku yang akan kukembalikan.
“Apa tidak dicari guru yang mengajar di kelasmu?”
“Entahlah. Saya tidak peduli, lagian saya tidak membolos jajan ke kantin atau keluar sekolah. Saya berada di perpustakaan.”
“Kamu kelas 12 Akselerasi kan? Kok tidak semangat belajar? Padahal sudah mendekati ujian lho!” tutur kata beliau yang lembut mencoba menasihatiku.
“Memang tidak Bu. Saya dipaksa mengambil program ini oleh Papa. Terkadang sesuatu yang dilakukan dengan keterpaksaan mampu menyenangkan hati seseorang, orang tua.”
Aku menuju ke sela-sela tumpukkan buku-buku yang disusun rapi. Beberapa menit aku mengamati, sebuah buku sastra menjadi sarapan pagiku hari ini. Inilah yang kusuka, sendiri dengan duniaku. Aku sering merasa pusing ketika dalam suasana kebisingan dan keramaian. Aliran darahku seperti terhambat, tidak lancar seperti sebelum-sebelumnya. Setelah mama meninggal dunia waktu itu, aku suka menyendiri, meyibukkan hari dengan duniaku sendiri dan mencari jalan bagaimana aku bisa bahagia dengan caraku sendiri. Sungguh menyakitkan ketika semua orang menganggapmu lalu, begitu saja, bagaikan patung pajangan disudut ruangan berdebu.
Bu Fima mentapku dengan iba. Mungkin dia mengucap “Aku tak tahu seperih apa penderitaan gadis ini. Dia berusaha tegar menatap dunia ketika dunia itu menekannya semakin dalam”

---

Seperti biasanya setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah bibi selalu menyiapkan sarapan favoritku; telur dadar. Aku menhampiri ruangan papaku. Tiba-tiba saja aku merindukan kebersamaan bersama papa. Aku mengetuk pintu.
Ada seorang wanita berambut panjang yang membukakan pintu kamar papa, “Papamu masih tidur.”
Aku hanya mengernyitkan dahi.
Siapa lagi wanita ini? Setiap kali aku mengetuk pintu kamar papa selalu ada wanita yang berbeda yang membuka pintu kamarnya. Higga aku tidak tahu siapa nama wanita itu satu-satu atau mungkin memang aku tidak ingin tahu siapa mereka.
Semenjak waktu itu papa semakin berubah, bahkan aku mulai tidak ingin mengakui dia adalah papaku. Aku tidak peduli.

---

Hari ini pelajaran yang menjadi momok bagiku terus menyerangku. Matematika. Aku memutuskan pulang karena aku merasa tak enak badan; toh tak ada yang peduli ketika aku meninggalkan kelas itu.
Mobil jaguar berwarna hitam tiba di depan sekolah ketika aku berjalan keluar dengan Bu Tias penjaga UKS yang memegangi tanganku. Aku meminta supirku untuk mengantarku ke sebuah tempat. Tempat favoritku, tempat aku bertemu dengan mama.
“Kemana Non?” Tanya Pak Parto sambil menatap lurus memamandang jalan.
“Ke tempat biasa Pak”
“Apa tidak sebaiknya Non pulang dahulu? Wajah Non sangat pucat.” Pak Parto mulai mengkhawatirkan keadaanku.
“Tidak apa-apa Pak. Oya sebelum tiba di sana mampir ke toko bunga seperti biasanya ya! Aku ingin membelikan bunga yang segar dan harum untuk mama.” Pintaku.
“Baik Non.”

---

 Mamaku adalah seorang wanita yang nyaris sempurna. Matanya bundar, parasnya yang ayu, sikapnya lemah lembut, hati yang mulia, sungguh makhluk Tuhan tiada cela. Hanya orang idiot yang tega mengkhianati perasaanya; papaku.
Kali ini pandanganku kosong menatap mama. Aku mengusap-usapnya dengan lembut sambil berusaha untuk tersenyum. Aku bercerita banyak hal, tentang sekolah, perkembanganku, kegemaranku yang baru, dan tentang ketertarikanku terhadap seseorang. Aku sama sekali tidak pernah menceritakan wanita jalang itu (ibu baruku), aku tidak ingin membuat mama menangis, karena papa telah memilih orang yang salah sebagai pengganti mama. Tapi sepintar apapun aku menyembunyikan cerita itu, mama pasti tahu; lebih dari apa yang aku tahu.
Aku membersihkan rumput-rumput liar yang kian memanjang setiap hari di atas tanah basah itu. Kutaburi bunga-bunga yang beraroma lembut ketika angin menerpa. Lantunan doa tak pernah luput ku ucap. Untuk kesekian kalinya aku mencium nisan mamaku.


much love
wnd :)