“Kesepian
itu berasal dari hati dan perasaan, bukan suasana yang sebenarnya”
Seperti
hari-hari sebelumnya, aku berjalan melewati koridor kelas dengan cuek.
Langkahku terus maju, tak peduli dengan segerombolan murid yang mengaku “gaul”
yang selalu mengeksistensikan dirinya, seolah-olah merekalah orang terpopuler
di sekolah ini. Terdengar bisikan nakal seorang anak ekstrakurikuler dance yang
sampai pada telingaku saat aku lewat di depan mereka. “Eh si idiot tuh!”
Seorang perempuan juga ikut mengguman, “Kasihan ya, efek ditinggal ibunya
meninggal jadi anak aneh.” Aku tak mempedulikan apa yang mereka katakan, karena
mereka tidak mengenalku, mereka hanya memandangku, hanya sekedar ‘tahu’.
Aku
melangkah pasti menuju sebuah ruangan dengan mendekap erat beberapa buku tebal
yang menghangatkanku. Aku berhenti di depan pintu berwarna abu-abu dengan daun
pintunya yang mulai memudar dan mulai memasuki ruangan itu. Baunya sangat khas,
bau buku perpustakaan sungguh klasik.
“Elsa!
Kamu tidak masuk kelas?” Suara Bu Fima, penjaga perpustakaan sekolah
mengagetkanku saat aku menulis nama daftar pengunjung perpustakaan.
“Tidak
Bu. Saya sedang suntuk, jenuh, bosan dengan suasana kelas.” Jawabku singkat
sambil menata buku-buku yang akan kukembalikan.
“Apa
tidak dicari guru yang mengajar di kelasmu?”
“Entahlah.
Saya tidak peduli, lagian saya tidak membolos jajan ke kantin atau keluar
sekolah. Saya berada di perpustakaan.”
“Kamu
kelas 12 Akselerasi kan? Kok tidak semangat belajar? Padahal sudah mendekati
ujian lho!” tutur kata beliau yang lembut mencoba menasihatiku.
“Memang
tidak Bu. Saya dipaksa mengambil program ini oleh Papa. Terkadang sesuatu yang
dilakukan dengan keterpaksaan mampu menyenangkan hati seseorang, orang tua.”
Aku
menuju ke sela-sela tumpukkan buku-buku yang disusun rapi. Beberapa menit aku
mengamati, sebuah buku sastra menjadi sarapan pagiku hari ini. Inilah yang
kusuka, sendiri dengan duniaku. Aku sering merasa pusing ketika dalam suasana
kebisingan dan keramaian. Aliran darahku seperti terhambat, tidak lancar
seperti sebelum-sebelumnya. Setelah mama meninggal dunia waktu itu, aku suka
menyendiri, meyibukkan hari dengan duniaku sendiri dan mencari jalan bagaimana
aku bisa bahagia dengan caraku sendiri. Sungguh menyakitkan ketika semua orang
menganggapmu lalu, begitu saja, bagaikan patung pajangan disudut ruangan
berdebu.
Bu
Fima mentapku dengan iba. Mungkin dia mengucap “Aku tak tahu seperih apa penderitaan gadis ini. Dia berusaha tegar
menatap dunia ketika dunia itu menekannya semakin dalam”
---
Seperti
biasanya setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah bibi selalu menyiapkan
sarapan favoritku; telur dadar. Aku menhampiri ruangan papaku. Tiba-tiba saja
aku merindukan kebersamaan bersama papa. Aku mengetuk pintu.
Ada
seorang wanita berambut panjang yang membukakan pintu kamar papa, “Papamu masih
tidur.”
Aku
hanya mengernyitkan dahi.
Siapa lagi wanita ini?
Setiap kali aku mengetuk pintu kamar papa selalu ada wanita yang berbeda yang
membuka pintu kamarnya. Higga aku tidak tahu siapa nama wanita itu satu-satu
atau mungkin memang aku tidak ingin tahu siapa mereka.
Semenjak
waktu itu papa semakin berubah, bahkan aku mulai tidak ingin mengakui dia
adalah papaku. Aku tidak peduli.
---
Hari
ini pelajaran yang menjadi momok bagiku terus menyerangku. Matematika. Aku
memutuskan pulang karena aku merasa tak enak badan; toh tak ada yang peduli
ketika aku meninggalkan kelas itu.
Mobil
jaguar berwarna hitam tiba di depan sekolah ketika aku berjalan keluar dengan
Bu Tias penjaga UKS yang memegangi tanganku. Aku meminta supirku untuk
mengantarku ke sebuah tempat. Tempat favoritku, tempat aku bertemu dengan mama.
“Kemana
Non?” Tanya Pak Parto sambil menatap lurus memamandang jalan.
“Ke
tempat biasa Pak”
“Apa
tidak sebaiknya Non pulang dahulu? Wajah Non sangat pucat.” Pak Parto mulai
mengkhawatirkan keadaanku.
“Tidak
apa-apa Pak. Oya sebelum tiba di sana mampir ke toko bunga seperti biasanya ya!
Aku ingin membelikan bunga yang segar dan harum untuk mama.” Pintaku.
“Baik
Non.”
---
Mamaku adalah seorang wanita yang nyaris
sempurna. Matanya bundar, parasnya yang ayu, sikapnya lemah lembut, hati yang
mulia, sungguh makhluk Tuhan tiada cela. Hanya orang idiot yang tega
mengkhianati perasaanya; papaku.
Kali
ini pandanganku kosong menatap mama. Aku mengusap-usapnya dengan lembut sambil
berusaha untuk tersenyum. Aku bercerita banyak hal, tentang sekolah,
perkembanganku, kegemaranku yang baru, dan tentang ketertarikanku terhadap
seseorang. Aku sama sekali tidak pernah menceritakan wanita jalang itu (ibu
baruku), aku tidak ingin membuat mama menangis, karena papa telah memilih orang
yang salah sebagai pengganti mama. Tapi sepintar apapun aku menyembunyikan
cerita itu, mama pasti tahu; lebih dari apa yang aku tahu.
Aku
membersihkan rumput-rumput liar yang kian memanjang setiap hari di atas tanah
basah itu. Kutaburi bunga-bunga yang beraroma lembut ketika angin menerpa. Lantunan
doa tak pernah luput ku ucap. Untuk kesekian kalinya aku mencium nisan mamaku.
much love
wnd :)