Jangan menjadikan dirimu sebagai PLAGIAT !!! Hargai karya orang lain :)

Sabtu, 30 Maret 2013

Menyesakkan (1)


"Cukup! Aku tak ingin merusak persahabatnmu dengannya untuk kedua kali," Bentakan itu membuat hatiku tersentak.

Aku memandangnya begitu dalam berharap dapat menemukan titik lemahnya. "Aku tak pernah ada masalah lagi dengannya. Apa penjelasanku kurang jelas?" Aku menjawab dengan hati yang terbakar. Panas.


"Tapi aku tak mau kalian seperti ini hanya karenaku! Sudahlah, cukup di sini saja"


"Maksudmu?" Aku merasakan hal aneh (lagi) ini bukan pertama kalinya, bahkan mungkin untuk kesekian kalinya. Tapi entah kenapa aku membiarkan diriku masuk dalam lubang salah yang sama untuk kesekian kalinya, entah kenapa aku selalu luluh kepadamu untuk kesekian kalinya, dan untuk kesekian kalinya kamu berhasil membuatku mematung. Inikah yang disebut cinta tulus? Cinta suci dari hati? Aku terus menerus memaksa otakku menjawab segala pertanyanku. Tanpa kusadari bahwa saat ini aku dan kamu dalam putaran keheningan. Tak ada suara yang kamu katakan selain gerakan nafas yang terdengar, tak ada tindakan selain angin semilir yang tanpa permisi menggelitikku, tak ada apapun, kosong.


Aku mulai membuka mulut dan mengatakan sesuatu untuk memecah keheningan yang kian lama kian menyerang tanpa perlawanan. "Aku tau maksudmu sekarang," Ucapku lirih.


"Jadi kau bisa mengerti keadaanku bukan?"


"Boleh aku bertanya padamu?"


"Kenapa tidak? Katakan saja"


"Kalau kau benar-benar mencintaiku kenapa kau tetap saja berpikir bahwa kau adalah tersangka dalam pecahnya persahabatanku? Diapun sudah merelakanmu padaku, dan aku berjanji membuatmu bahagia bersamaku,"


"Kau ingin aku jawab jujur?"


Nada suaranya mulai menyerang ulu hatiku, nyeri. "Tentu saja,"


"Aku juga mencintainya,"


"Jadi? Selama ini? Kau?"


"Ya. Kau benar. Dan ini adalah kenyataan. Sekarang kau tahu apa alasanku mengambil keputusan seperti ini. Aku hanya bingung dengan perasaanku sendiri,"


Mendengar pernyataan itu, hati wanita mana yang tak sakit? Berbagi cinta dengan sahabat sendiri? Mimpi buruk, ini benar-benar mimpi buruk. Aku tak tahu harus merespon apa dan bagaimana. Aku terlalu sibuk mengatur nafasku yang terhenti tepat di tenggorokkan, jantungku tak berfungsi, semua serasa luntur tepat di depan mataku.


"Aku tidak akan memilih kalian. Sampai salah satu dari kalian mempunyai pasangan. Kau paham dengan apa yang aku bicarakan?"


"Iya," Cukup jelas bagiku.


Betapa PD-nya pria ini? Apakah dia mencoba mempermainkan perasaanku?--Batinku.


Langit tampak cerah, sang bagaskara tertawa riang menyinari alam semesta. Burung-burung berkicau ria dan kupu-kupu beterbangan kecil menjaili bunga bermahkota indah di taman yang sedang aku tempati sekarang. Mereka begitu jahat, mereka berpesta pora di atas penderitaanku yang makin memuncak. Semut kecil yang berjalan merambat di tepi air mancur itu menertawaiku. Aku sungguh merasa terpojokkan. Dimana keadilan sesungguhnya?


"Kau baik-baik saja?"


"......"


"Hey Alice! Kau tak apa?"


"Ya. Tentu,"


"Aku tahu ini bukan hal yang mudah, beberapa hari kedepan aku akan menemuimu di tempat yang sama. Berfikirlah!"


"Eh~"


Pria berkemeja kotak-kotak merah itu tiba-tiba meninggalkanku di sini, sendirian. Dia tak menengok ke belakang sedikitpun. Dimana pria yang selama ini ku kenal? Ditelan bumi? Diculik alien penghuni planet mars? Atau hanyut ditelan ganasnya ombak laut? Aku membasahi pipiku sendiri, aku membiarkan make-up ini luntur begitu saja, aku tak peduli sejelek apa ketika aku menangis, aku....terlalu lemah untuk merasakan sakit ini sendirian. Kembalilah tolong! Dekap aku.




Jadi kapan kau bisa melihatku sejelas kau melihat dia tanpa ku?
*bersambung*

Jumat, 29 Maret 2013

Sebenarnyaaaa....


Hai Tuan, bagaimana kabarmu hari ini? Apakah kamu (masih) bahagia dengan kehidupan barumu sekarang? Bersama orang yang kamu inginkan? Entah sudah dekade keberapa kita berdebat tentang ini. Terlalu seringkah kita meributkannya sehingga aku nyaris melupakan semuanya?

Aku tidak akan berkata banyak tentang bualan ini, Tuan. Karena aku begitu sadar, aku adalah mozaik masa lalumu. Jika kau tak keberatan, aku ingin mengintip masa lalu kita, ada beberapa hal yang belum tersampaikan dan beberapa ungkapan yang belum sempat aku lontarkan padamu ketika aku menjadi kekasihmu (dulu).

Kamu tahu seberapa hati-hatinya aku menulis hal yang terkesan bodoh ini? Aku hanya tak ingin membuatmu terseret perlahan ke masa lalu bersamaku :') aku masih ingat dengan detail kali pertama kita bertemu. Rona memerah selalu muncul di kedua pipiku, dan rasa bahagia yang tak terkira selalu menyelimuti tiap pertemuan kita. Kau dengan penampilan sederhana dan sikap kedewasaan yang selalu kau tunjukkan membuatku lebih nyaman, mendekapku hangat hingga kata "aku dan kamu" menjadi sebuah kesatuan menyebutkan kata "kita". Singkat tapi pasti. Aku yakin kita tidak salah memilih salah satu takdir ini. -Waktu itu- aku sangat bahagia dapat mencuri segala perhatianmu dan memeluk sepenuh hatimu. Seorang laki-laki dengan berbagai talenta musik dan olahraga. Kekasih mana yang tak bangga mempunyai pasangan sepertimu?

Menjalin hubungan, apalagi hubungan sedekat ini bukanlah hal yang mudah, tidak semulus kain sutera, tak seindah pemandangan kala senja, dan tak seburuk kegelapan malam yang menghampiri. Bertahan dan terpisah jarak denganmu memang tidak sulit. Karena aku tahu aku yakin kita bisa melewati semua ini, bukankah begitu Tuan? Namun sayang, kenyataan berteriak lantang kepadaku bahwa itu adalah pernyataan yang salah, benar-benar salah.

Berawal dari sebuah candaan yang konyol yang terkesan omong kosong menurutku, kata "kita" mulai memudar. Aku sibuk membicarakan dia-imajinasiku-yang-kubuat untuk membuatmu cemburu sedangkan kamu yang sibuk membicarakan gadis-nyata-mu yang tak lain adalah teman sekelasmu sendiri dan kamu berhasil membuatku memakan pikiranku terhadapmu. Kesekian kalinya aku merasakan sakit ini. Sakit yang sama seperti sebelum-sebelumnya Tuan. Apakah kamu juga merasakannya? Apakah aku sudah menegakkan keadilan diantara kokohnya dinding hubungan kita? Aku lupa. Entah siapa yang memulai candaan ini, kamu? ataukah aku yang salah presepsi tentang gurauanmu beberapa waktu yang lalu?

Pengambilan keputusan secara sepihak untuk kedua kalinya kurasa tak adil bagiku, Tuan. Sebenarnya terbuat dari apakah hati dan pikiranmu hingga kau sekeji ini kepadaku? Tak bisakah kau melihatku dengan jelas melalui mata telanjangmu? Apakah aku hanya bayangan maya terbalik bagi hidupmu?

Mungkin keputusan perpisahan adalah keputusan yang terbaik untukmu tapi tidak untukku. Semenjak itu aku merasa ada sosok yang hilang dalam hidupku, seperti matahari tanpa planet yang mengorbit, bulan tanpa bintang, langit tanpa awan, entahlah Tuan terlalu sulit untuk mengumpamakannya. Bayang-bayangmu selalu mengikuti kehidupanku, mata beningmu selalu memata-mataiku, lambaian tanganmu masih hangat kurasa ketika kamu mengacak-acak rambutku kala itu. Di balik segala keprotesanku padamu aku merindukan pelukmu Tuan, aku menginginkanmu kembali menuntun kehidupanku, menjadi masa depanku. Di balik aku berbicara tentang dia-imajinasiku-yang-kubuat untuk membuatmu cemburu, sebenarnya aku membutuhkan perhatianmu daripada gadis-nyata-mu yang kau banggakan di depanku.

Aku minta maaf atas segala sifat bodoh dan kekanak-kanakanku. Terimakasih Tuan kau telah mengajariku banyak hal, aku akan mengabulkan permintaan akhirmu yang menginginkanku pergi darimu. Aku tak akan melupakanmu Tuan, aku akan melupakan perasaan yang timbul kepadamu, itu saja. Sampai jumpa dilain hari (yang entah kapan terjadi). Selamat tinggal.


Dari :

Seorang wanita yang masih berharap mampu menyeretmu ke masa lalu
Seorang wanita yang masih belum bisa berpaling
Seorang wanita yang -masih tetap- menyanyangimu

Minggu, 24 Maret 2013

Aku Mencintaimu Ibu



             Pagi dingin yang berkabut membuat tidurku lebih nyenyak daripada sebelumnya. Aku tak merasa nyaman sejak tubuh kecilku penuh dengan alat-alat yang mengerikan. Suaranya terdengar sangat menakutkan jika terdengar oleh telinga, melebihi suara detak jam dinding yang tergantung di dinding putih ruangan ini. Bau khas --- bau obat-obatan bangunan besar yang sedang kutempati menjadi bau yang amat ku benci. Ya memang aku tidak bisa apa-apa kecuali berbaring, tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur yang sempit dengan sprei putih serta selimut tebal yang menghangatkanku. Aku sudah terlalu bosan, aku ingin pulang tapi ibu tetap memaksaku untuk tinggal di sini beberapa hari sampai kondisi tubuhku membaik.

            Seperti biasa setiap pagi ibu selalu menyuapi sarapan sedikit demi sedikit walau aku sering mengelak karena makanan dari rumah sakit tak pernah terasa nikmat dilidahku, ibu tetap berusaha dengan berbagai cara agar aku mau makan makanan itu.

            "Sayang, ayo makan! Kamu tidak boleh mendzalimi dirimu sendiri. Tubuhmu membutuhkan nutrisi yang cukup agar kamu cepat sembuh dan cepat meniggalkan tempat ini,"

            Tak pernah ada bentakan, ibu selalu bersikap sabar kepada setiap anak-anaknya. Tapi kata-kata ibu tak sedikitpun mampu menggoyahkan pendirianku. "Aku tidak mau ibu, rasa makanan ini sama sekali tidak lezat, tidak sedikitpun,"

            Ibu menjawab dengan seulas senyum manis diwajahnya. "Sayang, sabar ya! Lakukan demi ibu nak, paling tidak untuk dirimu sendiri. Kesehatanmu sangat penting sayang. Ibu sangat sedih kalau kamu tidak mau makan seperti ini,"

            Mendengar suara ibu yang begitu kalem menasihatiku, hatiku luluh. Aku mulai membuka mulut untuk menyambut makanan yang tak pernah terasa enak ini masuk ke mulut melewati kerongkogan hingga sampai ke lambungku. Sikap ibu yang seperti inilah yang membuatku tak bisa bergerak, mematung.

            Beberapa saat setelah sarapan ibu keluar ruangan entah mengapa dan sesaat aku memejamkan mataku. Tiba-tiba tubuhku terasa semakin lemah, nafasku terengah-engah seperti orang yang berlari kencang kekurangan oksigen. Ketika aku mulai membuka mataku perlahan, semuanya terlihat samar, tak ada yang jelas. Aku berusaha melirik ke segala penjuru ruangan, berharap aku menemukan sosok ibu dalam kondisi tubuhku yang seperti ini. Rasanya seperti melayang, jiwa dan raga terpisah jauh namun aku masih dalam keadaan sadar walau hanya sedikit. Aku mencoba menggerakkan jariku merambat mencari tombol darurat agar dokter segera memeriksaku, mengetahui kondisiku. Apalah daya ketika aku tak sanggup bergerak, mengangkat penuh tangankupun sangat berat seperti memikul benda yang beratnya melebihi berat badanku sendiri. Terdengar samar seseorang membuka pintu ruangan ini, tak ada yang kuharapkan selain ibu. Aku membutuhkan Ibu sekarang.

            Syukurlah Allah mendengar doaku. Ibu langsung berlari memelukku ketika beliau melihatku sekarat. Pita suara tiba-tiba menghilang aku tak bisa bicara, aku tak bisa memberi tahu rasa sakit seperti apa yang sedang aku rasakan, hanya air mata yang mampu mengungkapkan segala rasa sakit ini. Ibu yang berlarian mencari bantuan terlihat sangat khawatir. Beliau tak hanya meneteskan air mata namun air mata itu sudah deras mengalir ke pipi lembutnya.

            Bisikan ibu membuatku menjadi lebih nyaman dan lebih tenang. "Dokter sedang menuju ke sini sayang. Tahanlah sebentar ya! Ibu sangat mncintaimu," Air mata ibu menetes diwajahku, aku merasakan kesedihan ibu yang sangat mendalam ketika melihatku seperti ini.

            Ibu, kau adalah wanita hebat yang pernah ku kenal, kau adalah orang yang rela berkorban demi apapun untuk orang yang kau cintai. Aku sungguh bangga lahir dari rahim seorang ibu sepertimu. Maafkan aku yang belum bisa membalas segala jasamu, segala pengorbananmu.

            Dekapan terakhir ibu terasa lebih hangat. Maaf ibu aku sudah tidak kuat lagi untuk berjuang, aku sudah lelah menunggu hingga dokter itu datang, penyakit paru-paru basah yang akut memang sulit untuk disembuhkan, aku sangat menyadarinya. Terimakasih ibu, kau sudah mencintaiku, dan aku juga sangat mencintaimu lebih dari apapun, lebih :’). Sampai jumpa di surga, aku akan merindukanmu..



Sincerely
Windy