Jangan menjadikan dirimu sebagai PLAGIAT !!! Hargai karya orang lain :)

Kamis, 09 Mei 2013

Alun-Alun Kota


 
“Apa yang kau inginkan, tidak selalu kau butuhkan. Apa yang kau cintai, tidak selalu membuatmu lebih bahagia. Bersyukurlah!”

Perfecto!!
Untuk kesekian kalinya, Danny bertemu dengan wanita itu. Wanita yang sempurna. Matanya, hidungnya, bibir tipisnya, tubuhnya, hijab yang ia kenakan, semuanya, seakan tak ada cela pada dirinya. Ya semua yang ada pada wanita itu membuat hati Danny luluh, membuat otaknya berhenti bekerja, membuat dunianya berhenti untuk beberapa saat. Ia hanya bisa mengamati wanita itu dari kejauhan dengan sesekali mengambil gambar wanita yang membuat Danny terpesona secara diam-diam. Seandainya ia dapat melihat wanita itu lebih dekat, seandainya ia dapat menyentuh wanita itu dengan jemari tangannya. Danny hanya bisa mendengus pelan ketika ia sadar bahwa itu adalah hal yang tak mudah.
Danny masih tetap mengambil gambar wanita itu diam-diam, walaupun hanya tampak punggung dan hijab yang ia sampirkan. Paras ayu-nya tak terlihat secara mata, karena Danny berdiri jauh, sangat jauh dari orang yang membuat Danny tak bisa tidur beberapa minggu terakhir.
Lampu-lampu taman dan beberapa lampu warna kelap-kelip yang tergantung di pohon beringin alun-alun kota menambah keelokan suasana malam. Orang-orang sangat bersemangat menghabiskan malam bersama keluarga, teman-teman, ataupun seseorang yang dicintainya. Danny sangat menyukai fotografi. Terlebih jika street fotografi, jadi ia terus memotret dan memotret apapun yang menurutnya itu adalah keadaan yang sangat indah dan patut untuk diabadikan. Danny sangat menggilainya, tapi wanita itu mampu membuat ia lebih gila.
Lagi-lagi wanita itu menghilang. Danny kehilangan sosok yang telah membuatnya salah arah. Ia harus menunggu lagi dan lagi. Ia harus kembali lagi setiap hari karena ia tak tahu pasti kapan wanita itu mengunjungi alun-alun kota seperti hari ini (lagi).
Menunggu, adalah salah satu bentuk perjuangan bukan? Wujud cinta adalah kesabaran. Tak pernah ada yang menyalahkan ketika seseorang menunggu sesuatu atau siapapun. Jadi Danny terus menunggu wanita itu hingga waktu yang akan mempertemukan mereka kembali. Ia tak merasa jenuh ataupun kesal dengan apa yang telah ia lakukan. Karena ia sangat yakin bahwa tiap tindakan yang dilakukan pasti membuahkan hasil. Danny tetap saja bertahan dan menggantungkan harapan pada seorang wanita yang ia; bahkan tidak tahu namanya. Menyakitkan kadang; tapi ia selalu berusaha mengalirinya dengan keikhlasan sepenuh hati, demi wanita itu, demi dirinya sendiri, demi cinta yang ada dalam hati kecilnya.
Dia tak tahu harus berbuat apa lagi untuk mengusir segala resah yang mengganggunya, membakar habis rindu yang selama ini telah menjerat kehidupannya, hingga ia menatap seseorang berpakaian biru yang memegang sapu lidi, memakai topi serta masker pada wajahnya, dan pada mobil yang ditumpanginya bertuliskan “Dinas PUPPW Kabupaten Tulungagung”.

---

“Apa? Jadi PUPPW?” Suara lantang itu jelas terdengar. Pak Sukar sangat kaget dengan apa yang Danny tanyakan.
“Iya Pak, bisa kan?”
“Tapi Nak Danny, Sampean iki isih enom, masih bisa menjadi pemuda yang lebih sukses lagi. Gaji pemula tidak banyak di sini, Nak,”
“Saya tidak mengejar kesuksesan ataupun gaji itu Pak!”
“Lantas napa to le?”
“Ini lebih penting dari gaji, Pak!” Danny mencoba lebih meyakinkan Pak Sukar untuk menerimanya sebagai PUPPW.
Opo sing sampean kejar?”
“Cinta,”

---

Matahari baru saja beranjak pergi. Malam ini seharusnya malam yang cerah penuh kemilau cahaya bintang yang berserakkan dan sinar terang sang rembulan. Awan kelam yang tertiup angin menyembunyikan segala keindahan langit malam. Tapi keadaan yang sedikit mengecewakan ini tak dipedulikan sedikitpun oleh Danny yang masih—tetap bersemangat dengan pekerjaan barunya. Seragam biru dan topi yang ia kenakan cukup membuat ia bahagia untuk malam ini.
Danny semakin rajin bekerja membersihkan tiap sudut alun-alun kota. Dengan goyangan tangan memegang sapu lidi yang tinggi ia terlihat sangat ahli dalam pekerjaannya kali ini.
Wanita itu pasti akan datang ke alun-alun ini lagi. Walau hanya duduk sambil menikmati air mancur atau jalan-jalan di atas bebatuan kecil yang disusun rapi. Danny masih yakin dengan apa yang ia fikirkan tentang wanita itu.
Danny tetap terjaga sambil membersihakan sedikit sampah yang berserakan tampak gelisah. Ia melirik jam tangannya untuk kesekian kali. Pukul 21.00. tapi wanita itu belum terlihat. Ia mengusap dahinya dan menghela nafas panjang. Jantung Danny berdetak lebih keras. Wanita itu.
Kali ini jarak mereka sangat dekat. Hanya beberapa centimeter.
“Permisi Mas, nitip sampah ya!” Ucap wanita itu dengan lembut.
“Oh iya,”
“Mmm..sepertinya saya pernah melihat Anda. Tapi bukan sebagai petugas sampah. Ada kamera yang tergantung pada leher Anda,” Kata wanita itu dengan penuh kecurigaan.
“Mungkin Mbak salah lihat,” Dengan gengsinya Danny mengelak pernyataan wanita itu, wanita yang semakin membuatnya jatuh. Jatuh cinta.
“Oh begitu. Mungkin saya salah lihat,”
“Anda rajin datang ke sini ya?”
“Iya Mas,” Jawabnya singkat.
“Sendirian?”
Pertanyaan Danny kali ini adalah ‘modus’. Ia memastikan wanita yang berhadapan dengannya kali ini memang benar-benar sendirian.
Ketika wanita itu hendak membuka mulut menjawab pertanyaan yang Danny sodorkan, tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri. Mulut anak itu belepotan, penuh dengan es krim yang ia pegang dengan tangan kanannya dan seorang pria bertubuh ideal, tinggi serta menawan berdiri sambil tersenyum melihat anak kecil itu berlari menghampiri wanita yang sedang berhadapan dengan Danny.
“Ma…Mama..mulut adek belepotan es klim, bersihin dong Ma!” Ucap anak itu dengan manja.
Danny tertegun mendengar apa yang diucap seorang anak kecil itu. Kaki tangannya mendadak lemas. Ia merasa pusing, seakan darah dalam tubuh memancar keluar tanpa sisa. Dadanya sangat sesak, paru-parunya terasa berhenti tak berfungsi. Ia tak bisa bernafas. Belum sempat Danny mengatur pernafasannya kembali seorang pria-yang-tadi-berdiri-dibelakang-anak-kecil-itu-sambil-tersenyum mendekat dan meraih anak itu kemudian mengayunkannya. Mereka sangat bahagia.
Wanita itu meninggalkan Danny sambil tersenyum. Apa yang dapat Danny perbuat? Tak ada. Ia tak bisa apa-apa sekarang. Ia hanya bisa memperhatikan wanita itu beranjak bersama seorang pria yang merangkul bahunya dengan mesra dan anak kecil yang berlari-lari kecil di depan mereka.
Danny menyandarkan tubuhnya, ia sudah tak kuat lagi menopang, bahkan untuk memunguti hatinya yang berantakanpun ia tak sempat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar