Jangan menjadikan dirimu sebagai PLAGIAT !!! Hargai karya orang lain :)

Selasa, 24 November 2015

Sunset di Mata Sang Bidadari


“Matahari terbenam sempurna, sesempurna kau di mataku”

Selalu indah.
Dio meletakkan paletnya di atas meja kecil dekat kanvas yang ia sandarkan pada sebuah kayu kecil yang selalu ia bawa ketika hasrat melukisnya menggebu-nggebu. Kali ini ia sedang tergila-gila oleh suasana sore pantai. Matahari terbenam, jingganya langit, dan angin yang menerpa dengan lembut. Seperti biasanya ia mampu menyelesaikan lukisan hanya dalam waktu 3 jam.

“Perfectoo Di!” seru seorang gadis dengan dress mini putih favoritnya.
“Hey..darimana?” tanya Dio.
“Menjemput senja, jadwal wajib sore” jawab seorang gadis dengan penuh kebahagiaan.

Dio selalu menyempatkan untuk memperhatikan paras ayunya. Sungguh ciptaan Tuhan tanpa cela. Ini bukan pertama kalinya ia terhanyut dengan kesempurnaan wajah seorang gadis di depannya.

“Lukis apa? Sepertinya ada yang berbeda dari biasanya” Gadis itu mengerutkan kedua alisnya.
“Benarkah? Coba kau tebak! Apa yang ku lukis?” Dio tersenyum.
“Senja....”
“Kau memang penebak yang hebat!” Seru Dio sambil mengacak-acak rambut halusnya.

“Senja....ia selalu bisa menenangkan hati setiap pengagumnya. Ia selalu menawarkan rindu yang tiada berkesudahan. Tak pernah kunikmati hari tanpa senja....aku jatuh cinta ketika senja mulai menyapa” Gadis itu berkata sambil menatap matahari yang mulai melambaikan sinar hangatnya menutup hari ini.
“Seistimewakah senja bagimu?” Tanya Dio sambil membereskan perlatan bersiap kembali pulang.
“Mungkin saja..., Di.. balik dulu ya, kita jumpa lagi besok di sini..bersama senja... daaaah!”

Sosok bidadari itupun menghilang bersama sang senja.

Entah sejak kapan Dio memandang gadis itu dari sudut yang berbeda. Gadis itu tak seperti gadis lainnya yang sangat suka bersolek, berlomba-lomba memamerkan wajah ayunya. Gadis itu tampil apa adanya, selama semua itu membuat nyaman, ia tak pernah mempermasalahkan. Dia tak cantik seperti gadis-gadis yang Dio jumpai selama ini. Dia lebih terlihat sederhana, tapi sangat mengagumkan. Bulat bola matanya, alisnya yang tebal tanpa goresan pensil sedikitpun, hidungya yang tak terlalu mancung dan bibir kecilnya sungguh indah. Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?

Gadis itu sangat mencintai senja. Sejak ia pindah ke daerah ini ia tak pernah absen untuk menjemput senja. Dio gemar melukis, awalnya Dio sangat suka melukis birunya laut dan hijaunya dedaunan. Namun gadis itu datang dengan membawa pesona yang berbeda. Itulah alasan mengapa Dio mulai menggilai suasana sore yang tenang dengan langit jingga penuh keromantisan. Tidak. Ia tidak menggilai senja, ia hanya tergila-gila dengan gadis penikmat senja.

With Love,
Me ~

1 komentar: