Alhamdulilah….buku
pertama karyaku sudah terbit dibulan Juli 2013 oleh Alif Gemilang Pressindo di
Jogjakarta. Walaupun bukan novel tapi merupakan langkah awal yang mengesankan
dalam penjajakan bakatku.
Awal cerita,
AGPressido mengadakan lomba cerpen dengan tema yang ditentukan. Iseng-iseng
ikut ajalah coba menilai karya cerita lewat lomba. Dalam kompetisi ini aku
tidak pernah berfikiran kalau ceritaku bakal lolos untuk dibukukan, karena ini
adalah pengalaman pertama, peserta yang mengikuti kompetisi ini cukup banyak,
dan tata bahasa asing yang ku gunakan juga belum begitu benar; ku rasa.
Tapi ternyata SALAH!!!
Saat pengumuman lewat catatan facebook nama ku tercantum di sana. Engga nyangka itu cerita bakal lolos
seleksi dari sekian ratus peserta yang mengikuti lomba ini.
Setelah
berbulan-bulan nungguin terbitan buku pertama, akhirnya tuh buku terbit juga.
Gini covernya. Simple sih tapi yaaaaa bangga dong karya uda ada yang nerbitin
:D
Karena
penjualan buku ini terbatas, bagi kalian yang ingin membeli bisa lewat online.
TELAH TERBIT:
Judul : KETIKA CINTA BERSEMI
ISBN : 978-602-7692-40-4
Tebal : 210 Halaman
Harga : Rp. 42.000,-
Penulis : Ragil Kuning and Friends
Untuk Pemesanan Silakan ketik:
KCB#Nama Lengkap#Alamat Lengkap#Jumlah#Nomor HP Kirim ke 0878 260000 53
atau Silakan Inbox kami
Judul : KETIKA CINTA BERSEMI
ISBN : 978-602-7692-40-4
Tebal : 210 Halaman
Harga : Rp. 42.000,-
Penulis : Ragil Kuning and Friends
Untuk Pemesanan Silakan ketik:
KCB#Nama Lengkap#Alamat Lengkap#Jumlah#Nomor HP Kirim ke 0878 260000 53
atau Silakan Inbox kami
================
Musim semi kali ini menghantarkanku padamu. Bukankah ini yang menjadi impian masa kecil kita? Aku bahagia karena pada akhirnya bisa kutatapi kembali wajah tampanmu setelah jarak sekian tahun memisahkan kita. Kini, dapat kurasakan lagi detak jantungmu ketika kusandarkan kepala ini pada dada bidangmu. Rama, sungguh aku merindukanmu.
Tapi ... bisakah kau pinta waktu untuk berhenti sejenak, Rama? Karena aku tahu kalau waktu yang kian berjalan pada akhirnya akan menimbulkan luka di hati kita. Aku tak mau itu terjadi.
Rama, di Colmar inilah aku berharap melepas ‘lelah’. Negeri impian ini nyatanya bisa kujajaki walau akhirnya aku pun harus kembali dengan sejuta rasa yang tertahan di hati. Bagaimanapun aku menyadarinya, Rama. Kita bukan sedang hidup di negeri kisah Ramayana, dimana Rama-lah yang akan selalu menjadi pemenang di hati Shinta. Senyatanya, kita ada di dunia nyata yang kadangkala harus bisa kita jalani dengan luka.
