Jangan menjadikan dirimu sebagai PLAGIAT !!! Hargai karya orang lain :)

Senin, 01 April 2013

Untitled


Hai Pria berjambul khatulistiwa yang cetar membahana di hati dan fikiranku! Bagaimana kabarmu? Terasa bagaimana hari-harimu tanpaku?

Sudah lama sejak beberapa hari yang lalu aku dan kamu kehilangan kontak komunikasi. Hari-hariku terasa amat panjang saat aku melewatinya sendirian, tanpa dekapan hangatmu. Aku yakin kamu merasakan hal yang sama denganku, walaupun kamu terlihat bahagia tanpaku disisimu. Aku masih ingat apa yang terjadi antara kita waktu lalu dan merasa sakit ketika seseorang menyebutkan namamu, menanyakan dimana keberadaanmu padaku. Entah sampai kapan aku bisa memperbaiki pandangku terhadapmu sebagai seorang teman, bukan sebagai kekasihmu (lagi).

Sadarkah ketika kamu mengucap beberapa kalimat yang begitu menyayat hatiku? Ah ya aku lupa. Kamu adalah seseorang yang sangat mudah melupakan sesuatu terlebih masalah skandal hidup yang berusaha melilit untuk membunuhmu.

Hai Pria keren yang diidolakan tiap wanita! Kamu terlalu pintar menutupi segala kebodohan, kemunafikan, dan kesedihan yang merangkul erat fikiranmu setiap hari. Kamu terlalu pelit untuk membagi cerita pahit itu kepadaku. Usahaku untuk membuatmu lebih terbuka ternyata tak berbuah manis sedikitpun. Tapi kamu terlalu terbuka untuk bercerita banyak hal tentang gadis-yang-kamu-bandingkan-denganku. Kenapa kamu memberiku cerita yang mengerikan? Aku bukan siapa-siapamu lagi bukan? Tak lebih dari masa lalumu. Walaupun aku tak pernah bisa menghilangkan perasaan yang terus memutar balikkan hatiku kepadamu. Aku juga manusia ciptaan Tuhan yang dibekali akal dan perasaan. Kau kira aku seorang patung cantik bak roro jonggrang yang bisa kamu mainkan dalam mozaik kehidupanmu? Atau hanya wayang yang kamu jadikan pelampiasan kejenuhan harimu?

Aku lupa. Sungguh benar-benar lupa siapa kamu, makhluk ciptaan Tuhan yang bagaimanakah kamu? Seperti apa Tuhan memberikan karakter dalam hidup? Aku tidak ada niat untuk berbalas dendam terhadapmu, seujung kukupun tidak. Aku hanya butuh keadilan darimu Pria manis, tidak lebih. Namun bukankah cara seperti itu yang kamu berikan padaku? Bukankah seperti itulah sikapmu di depanku? Jadi apakah salah jika aku memperlakukanmu sebagaimana kamu mempermainkanku? Setidaknya kita sudah berusaha menyeimbangkannya bukan? Dan kufikir cukup seimbang.


Hai Pria beralis tebal yang belum bisa ku-enyahkan dalam tatapan mata,
Aku merindukan suaramu, aku merindukanmu :’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar