Hai Pria berjambul khatulistiwa yang cetar membahana di
hati dan fikiranku! Bagaimana kabarmu? Terasa bagaimana hari-harimu tanpaku?
Sudah lama sejak beberapa hari yang lalu aku dan kamu
kehilangan kontak komunikasi. Hari-hariku terasa amat panjang saat aku
melewatinya sendirian, tanpa dekapan hangatmu. Aku yakin kamu merasakan hal
yang sama denganku, walaupun kamu terlihat bahagia tanpaku disisimu. Aku masih
ingat apa yang terjadi antara kita waktu lalu dan merasa sakit ketika seseorang
menyebutkan namamu, menanyakan dimana keberadaanmu padaku. Entah sampai kapan aku
bisa memperbaiki pandangku terhadapmu sebagai seorang teman, bukan sebagai
kekasihmu (lagi).
Sadarkah ketika kamu mengucap beberapa kalimat yang
begitu menyayat hatiku? Ah ya aku lupa. Kamu adalah seseorang yang sangat mudah
melupakan sesuatu terlebih masalah skandal hidup yang berusaha melilit untuk
membunuhmu.
Hai Pria keren yang diidolakan tiap wanita! Kamu terlalu
pintar menutupi segala kebodohan, kemunafikan, dan kesedihan yang merangkul
erat fikiranmu setiap hari. Kamu terlalu pelit untuk membagi cerita pahit itu
kepadaku. Usahaku untuk membuatmu lebih terbuka ternyata tak berbuah manis
sedikitpun. Tapi kamu terlalu terbuka untuk bercerita banyak hal tentang
gadis-yang-kamu-bandingkan-denganku. Kenapa kamu memberiku cerita yang
mengerikan? Aku bukan siapa-siapamu lagi bukan? Tak lebih dari masa lalumu.
Walaupun aku tak pernah bisa menghilangkan perasaan yang terus memutar balikkan
hatiku kepadamu. Aku juga manusia ciptaan Tuhan yang dibekali akal dan
perasaan. Kau kira aku seorang patung cantik bak roro jonggrang yang bisa kamu
mainkan dalam mozaik kehidupanmu? Atau hanya wayang yang kamu jadikan
pelampiasan kejenuhan harimu?
Aku lupa. Sungguh benar-benar lupa siapa kamu, makhluk
ciptaan Tuhan yang bagaimanakah kamu? Seperti apa Tuhan memberikan karakter
dalam hidup? Aku tidak ada niat untuk berbalas dendam terhadapmu, seujung
kukupun tidak. Aku hanya butuh keadilan darimu Pria manis, tidak lebih. Namun
bukankah cara seperti itu yang kamu berikan padaku? Bukankah seperti itulah
sikapmu di depanku? Jadi apakah salah jika aku memperlakukanmu sebagaimana kamu
mempermainkanku? Setidaknya kita sudah berusaha menyeimbangkannya bukan? Dan kufikir
cukup seimbang.
Hai Pria beralis tebal yang belum bisa ku-enyahkan dalam tatapan mata,
Aku merindukan suaramu, aku merindukanmu :’)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar