“Apa yang kau inginkan, tidak selalu
kau butuhkan. Apa yang kau cintai, tidak selalu membuatmu lebih bahagia.
Bersyukurlah!”
Perfecto!!
Untuk kesekian kalinya, Danny bertemu
dengan wanita itu. Wanita yang sempurna. Matanya, hidungnya, bibir tipisnya,
tubuhnya, hijab yang ia kenakan, semuanya, seakan tak ada cela pada dirinya. Ya
semua yang ada pada wanita itu membuat hati Danny luluh, membuat otaknya
berhenti bekerja, membuat dunianya berhenti untuk beberapa saat. Ia hanya bisa
mengamati wanita itu dari kejauhan dengan sesekali mengambil gambar wanita yang
membuat Danny terpesona secara diam-diam. Seandainya ia dapat melihat wanita
itu lebih dekat, seandainya ia dapat menyentuh wanita itu dengan jemari
tangannya. Danny hanya bisa mendengus pelan ketika ia sadar bahwa itu adalah
hal yang tak mudah.
Danny masih tetap mengambil gambar
wanita itu diam-diam, walaupun hanya tampak punggung dan hijab yang ia
sampirkan. Paras ayu-nya tak terlihat secara mata, karena Danny berdiri jauh,
sangat jauh dari orang yang membuat Danny tak bisa tidur beberapa minggu
terakhir.
Lampu-lampu taman dan beberapa lampu
warna kelap-kelip yang tergantung di pohon beringin alun-alun kota menambah
keelokan suasana malam. Orang-orang sangat bersemangat menghabiskan malam
bersama keluarga, teman-teman, ataupun seseorang yang dicintainya. Danny sangat
menyukai fotografi. Terlebih jika street
fotografi, jadi ia terus memotret dan memotret apapun yang menurutnya itu
adalah keadaan yang sangat indah dan patut untuk diabadikan. Danny sangat
menggilainya, tapi wanita itu mampu membuat ia lebih gila.
Lagi-lagi wanita itu menghilang. Danny
kehilangan sosok yang telah membuatnya salah arah. Ia harus menunggu lagi dan
lagi. Ia harus kembali lagi setiap hari karena ia tak tahu pasti kapan wanita
itu mengunjungi alun-alun kota seperti hari ini (lagi).
Menunggu, adalah salah satu bentuk
perjuangan bukan? Wujud cinta adalah kesabaran. Tak pernah ada yang menyalahkan
ketika seseorang menunggu sesuatu atau siapapun. Jadi Danny terus menunggu
wanita itu hingga waktu yang akan mempertemukan mereka kembali. Ia tak merasa
jenuh ataupun kesal dengan apa yang telah ia lakukan. Karena ia sangat yakin
bahwa tiap tindakan yang dilakukan pasti membuahkan hasil. Danny tetap saja
bertahan dan menggantungkan harapan pada seorang wanita yang ia; bahkan tidak
tahu namanya. Menyakitkan kadang; tapi ia selalu berusaha mengalirinya dengan
keikhlasan sepenuh hati, demi wanita itu, demi dirinya sendiri, demi cinta yang
ada dalam hati kecilnya.
Dia tak tahu harus berbuat apa lagi
untuk mengusir segala resah yang mengganggunya, membakar habis rindu yang
selama ini telah menjerat kehidupannya, hingga ia menatap seseorang berpakaian
biru yang memegang sapu lidi, memakai topi serta masker pada wajahnya, dan pada
mobil yang ditumpanginya bertuliskan “Dinas PUPPW Kabupaten Tulungagung”.
---
“Apa? Jadi PUPPW?” Suara lantang itu
jelas terdengar. Pak Sukar sangat kaget dengan apa yang Danny tanyakan.
“Iya Pak, bisa kan?”
“Tapi Nak Danny, Sampean iki isih enom, masih bisa menjadi pemuda yang lebih sukses
lagi. Gaji pemula tidak banyak di sini, Nak,”
“Saya tidak mengejar kesuksesan ataupun
gaji itu Pak!”
“Lantas napa to le?”
“Ini lebih penting dari gaji, Pak!”
Danny mencoba lebih meyakinkan Pak Sukar untuk menerimanya sebagai PUPPW.
“Opo
sing sampean kejar?”
“Cinta,”
---
Matahari baru saja beranjak pergi.
Malam ini seharusnya malam yang cerah penuh kemilau cahaya bintang yang
berserakkan dan sinar terang sang rembulan. Awan kelam yang tertiup angin
menyembunyikan segala keindahan langit malam. Tapi keadaan yang sedikit mengecewakan
ini tak dipedulikan sedikitpun oleh Danny yang masih—tetap bersemangat dengan
pekerjaan barunya. Seragam biru dan topi yang ia kenakan cukup membuat ia
bahagia untuk malam ini.
Danny semakin rajin bekerja
membersihkan tiap sudut alun-alun kota. Dengan goyangan tangan memegang sapu
lidi yang tinggi ia terlihat sangat ahli dalam pekerjaannya kali ini.
Wanita itu pasti akan datang ke
alun-alun ini lagi. Walau hanya duduk sambil menikmati air mancur atau
jalan-jalan di atas bebatuan kecil yang disusun rapi. Danny masih yakin dengan
apa yang ia fikirkan tentang wanita itu.
Danny tetap terjaga sambil
membersihakan sedikit sampah yang berserakan tampak gelisah. Ia melirik jam
tangannya untuk kesekian kali. Pukul 21.00. tapi wanita itu belum terlihat. Ia
mengusap dahinya dan menghela nafas panjang. Jantung Danny berdetak lebih
keras. Wanita itu.
Kali ini jarak mereka sangat dekat.
Hanya beberapa centimeter.
“Permisi Mas, nitip sampah ya!” Ucap
wanita itu dengan lembut.
“Oh iya,”
“Mmm..sepertinya saya pernah melihat
Anda. Tapi bukan sebagai petugas sampah. Ada kamera yang tergantung pada leher
Anda,” Kata wanita itu dengan penuh kecurigaan.
“Mungkin Mbak salah lihat,” Dengan
gengsinya Danny mengelak pernyataan wanita itu, wanita yang semakin membuatnya jatuh. Jatuh cinta.
“Oh begitu. Mungkin saya salah lihat,”
“Anda rajin datang ke sini ya?”
“Iya Mas,” Jawabnya singkat.
“Sendirian?”
Pertanyaan Danny kali ini adalah
‘modus’. Ia memastikan wanita yang berhadapan dengannya kali ini memang
benar-benar sendirian.
Ketika wanita itu hendak membuka mulut
menjawab pertanyaan yang Danny sodorkan, tiba-tiba seorang anak kecil
menghampiri. Mulut anak itu belepotan, penuh dengan es krim yang ia pegang
dengan tangan kanannya dan seorang pria bertubuh ideal, tinggi serta menawan
berdiri sambil tersenyum melihat anak kecil itu berlari menghampiri wanita yang
sedang berhadapan dengan Danny.
“Ma…Mama..mulut adek belepotan es klim,
bersihin dong Ma!” Ucap anak itu dengan manja.
Danny tertegun mendengar apa yang
diucap seorang anak kecil itu. Kaki tangannya mendadak lemas. Ia merasa pusing,
seakan darah dalam tubuh memancar keluar tanpa sisa. Dadanya sangat sesak,
paru-parunya terasa berhenti tak berfungsi. Ia tak bisa bernafas. Belum sempat
Danny mengatur pernafasannya kembali seorang
pria-yang-tadi-berdiri-dibelakang-anak-kecil-itu-sambil-tersenyum mendekat dan
meraih anak itu kemudian mengayunkannya. Mereka sangat bahagia.
Wanita itu meninggalkan Danny sambil
tersenyum. Apa yang dapat Danny perbuat? Tak ada. Ia tak bisa apa-apa sekarang.
Ia hanya bisa memperhatikan wanita itu beranjak bersama seorang pria yang
merangkul bahunya dengan mesra dan anak kecil yang berlari-lari kecil di depan
mereka.
Danny menyandarkan tubuhnya, ia sudah
tak kuat lagi menopang, bahkan untuk memunguti hatinya yang berantakanpun ia
tak sempat.