Hai Tuan, bagaimana kabarmu hari ini? Apakah kamu (masih)
bahagia dengan kehidupan barumu sekarang? Bersama orang yang kamu inginkan?
Entah sudah dekade keberapa kita berdebat tentang ini. Terlalu seringkah kita
meributkannya sehingga aku nyaris melupakan semuanya?
Aku tidak akan berkata banyak tentang bualan ini, Tuan.
Karena aku begitu sadar, aku adalah mozaik masa lalumu. Jika kau tak keberatan,
aku ingin mengintip masa lalu kita, ada beberapa hal yang belum tersampaikan
dan beberapa ungkapan yang belum sempat aku lontarkan padamu ketika aku menjadi
kekasihmu (dulu).
Kamu tahu seberapa hati-hatinya aku menulis hal yang
terkesan bodoh ini? Aku hanya tak ingin membuatmu terseret perlahan ke masa
lalu bersamaku :') aku masih ingat dengan detail kali pertama kita bertemu.
Rona memerah selalu muncul di kedua pipiku, dan rasa bahagia yang tak terkira
selalu menyelimuti tiap pertemuan kita. Kau dengan penampilan sederhana dan
sikap kedewasaan yang selalu kau tunjukkan membuatku lebih nyaman, mendekapku
hangat hingga kata "aku dan kamu" menjadi sebuah kesatuan menyebutkan
kata "kita". Singkat tapi pasti. Aku yakin kita tidak salah memilih
salah satu takdir ini. -Waktu itu- aku sangat bahagia dapat mencuri segala
perhatianmu dan memeluk sepenuh hatimu. Seorang laki-laki dengan berbagai
talenta musik dan olahraga. Kekasih mana yang tak bangga mempunyai pasangan
sepertimu?
Menjalin hubungan, apalagi hubungan sedekat ini bukanlah
hal yang mudah, tidak semulus kain sutera, tak seindah pemandangan kala senja,
dan tak seburuk kegelapan malam yang menghampiri. Bertahan dan terpisah jarak
denganmu memang tidak sulit. Karena aku tahu aku yakin kita bisa melewati semua
ini, bukankah begitu Tuan? Namun sayang, kenyataan berteriak lantang kepadaku
bahwa itu adalah pernyataan yang salah, benar-benar salah.
Berawal dari sebuah candaan yang konyol yang terkesan
omong kosong menurutku, kata "kita" mulai memudar. Aku sibuk
membicarakan dia-imajinasiku-yang-kubuat untuk membuatmu cemburu sedangkan kamu
yang sibuk membicarakan gadis-nyata-mu yang tak lain adalah teman sekelasmu
sendiri dan kamu berhasil membuatku memakan pikiranku terhadapmu. Kesekian
kalinya aku merasakan sakit ini. Sakit yang sama seperti sebelum-sebelumnya
Tuan. Apakah kamu juga merasakannya? Apakah aku sudah menegakkan keadilan
diantara kokohnya dinding hubungan kita? Aku lupa. Entah siapa yang memulai
candaan ini, kamu? ataukah aku yang salah presepsi tentang gurauanmu beberapa
waktu yang lalu?
Pengambilan keputusan secara sepihak untuk kedua kalinya
kurasa tak adil bagiku, Tuan. Sebenarnya terbuat dari apakah hati dan pikiranmu
hingga kau sekeji ini kepadaku? Tak bisakah kau melihatku dengan jelas melalui
mata telanjangmu? Apakah aku hanya bayangan maya terbalik bagi hidupmu?
Mungkin keputusan perpisahan adalah keputusan yang
terbaik untukmu tapi tidak untukku. Semenjak itu aku merasa ada sosok yang
hilang dalam hidupku, seperti matahari tanpa planet yang mengorbit, bulan tanpa
bintang, langit tanpa awan, entahlah Tuan terlalu sulit untuk mengumpamakannya.
Bayang-bayangmu selalu mengikuti kehidupanku, mata beningmu selalu
memata-mataiku, lambaian tanganmu masih hangat kurasa ketika kamu mengacak-acak
rambutku kala itu. Di balik segala keprotesanku padamu aku merindukan pelukmu
Tuan, aku menginginkanmu kembali menuntun kehidupanku, menjadi masa depanku. Di
balik aku berbicara tentang dia-imajinasiku-yang-kubuat untuk membuatmu
cemburu, sebenarnya aku membutuhkan perhatianmu daripada gadis-nyata-mu yang
kau banggakan di depanku.
Aku minta maaf atas segala sifat bodoh dan
kekanak-kanakanku. Terimakasih Tuan kau telah mengajariku banyak hal, aku akan
mengabulkan permintaan akhirmu yang menginginkanku pergi darimu. Aku tak akan
melupakanmu Tuan, aku akan melupakan perasaan yang timbul kepadamu, itu saja. Sampai
jumpa dilain hari (yang entah kapan terjadi). Selamat tinggal.
Dari :
Seorang wanita yang masih berharap mampu menyeretmu ke
masa lalu
Seorang wanita yang masih belum bisa berpaling
Seorang wanita yang -masih tetap- menyanyangimu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar