Jangan menjadikan dirimu sebagai PLAGIAT !!! Hargai karya orang lain :)

Jumat, 29 Maret 2013

Sebenarnyaaaa....


Hai Tuan, bagaimana kabarmu hari ini? Apakah kamu (masih) bahagia dengan kehidupan barumu sekarang? Bersama orang yang kamu inginkan? Entah sudah dekade keberapa kita berdebat tentang ini. Terlalu seringkah kita meributkannya sehingga aku nyaris melupakan semuanya?

Aku tidak akan berkata banyak tentang bualan ini, Tuan. Karena aku begitu sadar, aku adalah mozaik masa lalumu. Jika kau tak keberatan, aku ingin mengintip masa lalu kita, ada beberapa hal yang belum tersampaikan dan beberapa ungkapan yang belum sempat aku lontarkan padamu ketika aku menjadi kekasihmu (dulu).

Kamu tahu seberapa hati-hatinya aku menulis hal yang terkesan bodoh ini? Aku hanya tak ingin membuatmu terseret perlahan ke masa lalu bersamaku :') aku masih ingat dengan detail kali pertama kita bertemu. Rona memerah selalu muncul di kedua pipiku, dan rasa bahagia yang tak terkira selalu menyelimuti tiap pertemuan kita. Kau dengan penampilan sederhana dan sikap kedewasaan yang selalu kau tunjukkan membuatku lebih nyaman, mendekapku hangat hingga kata "aku dan kamu" menjadi sebuah kesatuan menyebutkan kata "kita". Singkat tapi pasti. Aku yakin kita tidak salah memilih salah satu takdir ini. -Waktu itu- aku sangat bahagia dapat mencuri segala perhatianmu dan memeluk sepenuh hatimu. Seorang laki-laki dengan berbagai talenta musik dan olahraga. Kekasih mana yang tak bangga mempunyai pasangan sepertimu?

Menjalin hubungan, apalagi hubungan sedekat ini bukanlah hal yang mudah, tidak semulus kain sutera, tak seindah pemandangan kala senja, dan tak seburuk kegelapan malam yang menghampiri. Bertahan dan terpisah jarak denganmu memang tidak sulit. Karena aku tahu aku yakin kita bisa melewati semua ini, bukankah begitu Tuan? Namun sayang, kenyataan berteriak lantang kepadaku bahwa itu adalah pernyataan yang salah, benar-benar salah.

Berawal dari sebuah candaan yang konyol yang terkesan omong kosong menurutku, kata "kita" mulai memudar. Aku sibuk membicarakan dia-imajinasiku-yang-kubuat untuk membuatmu cemburu sedangkan kamu yang sibuk membicarakan gadis-nyata-mu yang tak lain adalah teman sekelasmu sendiri dan kamu berhasil membuatku memakan pikiranku terhadapmu. Kesekian kalinya aku merasakan sakit ini. Sakit yang sama seperti sebelum-sebelumnya Tuan. Apakah kamu juga merasakannya? Apakah aku sudah menegakkan keadilan diantara kokohnya dinding hubungan kita? Aku lupa. Entah siapa yang memulai candaan ini, kamu? ataukah aku yang salah presepsi tentang gurauanmu beberapa waktu yang lalu?

Pengambilan keputusan secara sepihak untuk kedua kalinya kurasa tak adil bagiku, Tuan. Sebenarnya terbuat dari apakah hati dan pikiranmu hingga kau sekeji ini kepadaku? Tak bisakah kau melihatku dengan jelas melalui mata telanjangmu? Apakah aku hanya bayangan maya terbalik bagi hidupmu?

Mungkin keputusan perpisahan adalah keputusan yang terbaik untukmu tapi tidak untukku. Semenjak itu aku merasa ada sosok yang hilang dalam hidupku, seperti matahari tanpa planet yang mengorbit, bulan tanpa bintang, langit tanpa awan, entahlah Tuan terlalu sulit untuk mengumpamakannya. Bayang-bayangmu selalu mengikuti kehidupanku, mata beningmu selalu memata-mataiku, lambaian tanganmu masih hangat kurasa ketika kamu mengacak-acak rambutku kala itu. Di balik segala keprotesanku padamu aku merindukan pelukmu Tuan, aku menginginkanmu kembali menuntun kehidupanku, menjadi masa depanku. Di balik aku berbicara tentang dia-imajinasiku-yang-kubuat untuk membuatmu cemburu, sebenarnya aku membutuhkan perhatianmu daripada gadis-nyata-mu yang kau banggakan di depanku.

Aku minta maaf atas segala sifat bodoh dan kekanak-kanakanku. Terimakasih Tuan kau telah mengajariku banyak hal, aku akan mengabulkan permintaan akhirmu yang menginginkanku pergi darimu. Aku tak akan melupakanmu Tuan, aku akan melupakan perasaan yang timbul kepadamu, itu saja. Sampai jumpa dilain hari (yang entah kapan terjadi). Selamat tinggal.


Dari :

Seorang wanita yang masih berharap mampu menyeretmu ke masa lalu
Seorang wanita yang masih belum bisa berpaling
Seorang wanita yang -masih tetap- menyanyangimu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar