Pagi dingin yang
berkabut membuat tidurku lebih nyenyak daripada sebelumnya. Aku tak merasa
nyaman sejak tubuh kecilku penuh dengan alat-alat yang mengerikan. Suaranya
terdengar sangat menakutkan jika terdengar oleh telinga, melebihi suara detak
jam dinding yang tergantung di dinding putih ruangan ini. Bau khas --- bau
obat-obatan bangunan besar yang sedang kutempati menjadi bau yang amat ku
benci. Ya memang aku tidak bisa apa-apa kecuali berbaring, tergeletak tak
berdaya di atas tempat tidur yang sempit dengan sprei putih serta selimut tebal
yang menghangatkanku. Aku sudah terlalu bosan, aku ingin pulang tapi ibu tetap
memaksaku untuk tinggal di sini beberapa hari sampai kondisi tubuhku membaik.
Seperti biasa setiap pagi ibu selalu
menyuapi sarapan sedikit demi sedikit walau aku sering mengelak karena makanan
dari rumah sakit tak pernah terasa nikmat dilidahku, ibu tetap berusaha dengan
berbagai cara agar aku mau makan makanan itu.
"Sayang, ayo makan! Kamu tidak
boleh mendzalimi dirimu sendiri. Tubuhmu membutuhkan nutrisi yang cukup agar
kamu cepat sembuh dan cepat meniggalkan tempat ini,"
Tak pernah ada bentakan, ibu selalu
bersikap sabar kepada setiap anak-anaknya. Tapi kata-kata ibu tak sedikitpun
mampu menggoyahkan pendirianku. "Aku tidak mau ibu, rasa makanan ini sama
sekali tidak lezat, tidak sedikitpun,"
Ibu menjawab dengan seulas senyum
manis diwajahnya. "Sayang, sabar ya! Lakukan demi ibu nak, paling tidak
untuk dirimu sendiri. Kesehatanmu sangat penting sayang. Ibu sangat sedih kalau
kamu tidak mau makan seperti ini,"
Mendengar suara ibu yang begitu
kalem menasihatiku, hatiku luluh. Aku mulai membuka mulut untuk menyambut
makanan yang tak pernah terasa enak ini masuk ke mulut melewati kerongkogan
hingga sampai ke lambungku. Sikap ibu yang seperti inilah yang membuatku tak
bisa bergerak, mematung.
Beberapa saat setelah sarapan ibu
keluar ruangan entah mengapa dan sesaat aku memejamkan mataku. Tiba-tiba
tubuhku terasa semakin lemah, nafasku terengah-engah seperti orang yang berlari
kencang kekurangan oksigen. Ketika aku mulai membuka mataku perlahan, semuanya
terlihat samar, tak ada yang jelas. Aku berusaha melirik ke segala penjuru
ruangan, berharap aku menemukan sosok ibu dalam kondisi tubuhku yang seperti
ini. Rasanya seperti melayang, jiwa dan raga terpisah jauh namun aku masih
dalam keadaan sadar walau hanya sedikit. Aku mencoba menggerakkan jariku
merambat mencari tombol darurat agar dokter segera memeriksaku, mengetahui
kondisiku. Apalah daya ketika aku tak sanggup bergerak, mengangkat penuh
tangankupun sangat berat seperti memikul benda yang beratnya melebihi berat
badanku sendiri. Terdengar samar seseorang membuka pintu ruangan ini, tak ada
yang kuharapkan selain ibu. Aku membutuhkan Ibu sekarang.
Syukurlah Allah mendengar doaku. Ibu
langsung berlari memelukku ketika beliau melihatku sekarat. Pita suara
tiba-tiba menghilang aku tak bisa bicara, aku tak bisa memberi tahu rasa sakit
seperti apa yang sedang aku rasakan, hanya air mata yang mampu mengungkapkan
segala rasa sakit ini. Ibu yang berlarian mencari bantuan terlihat sangat
khawatir. Beliau tak hanya meneteskan air mata namun air mata itu sudah deras
mengalir ke pipi lembutnya.
Bisikan ibu membuatku menjadi lebih
nyaman dan lebih tenang. "Dokter sedang menuju ke sini sayang. Tahanlah
sebentar ya! Ibu sangat mncintaimu," Air mata ibu menetes diwajahku, aku
merasakan kesedihan ibu yang sangat mendalam ketika melihatku seperti ini.
Ibu, kau adalah wanita hebat yang
pernah ku kenal, kau adalah orang yang rela berkorban demi apapun untuk orang
yang kau cintai. Aku sungguh bangga lahir dari rahim seorang ibu sepertimu.
Maafkan aku yang belum bisa membalas segala jasamu, segala pengorbananmu.
Dekapan terakhir ibu terasa lebih
hangat. Maaf ibu aku sudah tidak kuat lagi untuk berjuang, aku sudah lelah
menunggu hingga dokter itu datang, penyakit paru-paru basah yang akut memang
sulit untuk disembuhkan, aku sangat menyadarinya. Terimakasih ibu, kau sudah
mencintaiku, dan aku juga sangat mencintaimu lebih dari apapun, lebih :’).
Sampai jumpa di surga, aku akan merindukanmu..
Sincerely
Windy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar