Jangan menjadikan dirimu sebagai PLAGIAT !!! Hargai karya orang lain :)

Minggu, 24 Maret 2013

Aku Mencintaimu Ibu



             Pagi dingin yang berkabut membuat tidurku lebih nyenyak daripada sebelumnya. Aku tak merasa nyaman sejak tubuh kecilku penuh dengan alat-alat yang mengerikan. Suaranya terdengar sangat menakutkan jika terdengar oleh telinga, melebihi suara detak jam dinding yang tergantung di dinding putih ruangan ini. Bau khas --- bau obat-obatan bangunan besar yang sedang kutempati menjadi bau yang amat ku benci. Ya memang aku tidak bisa apa-apa kecuali berbaring, tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur yang sempit dengan sprei putih serta selimut tebal yang menghangatkanku. Aku sudah terlalu bosan, aku ingin pulang tapi ibu tetap memaksaku untuk tinggal di sini beberapa hari sampai kondisi tubuhku membaik.

            Seperti biasa setiap pagi ibu selalu menyuapi sarapan sedikit demi sedikit walau aku sering mengelak karena makanan dari rumah sakit tak pernah terasa nikmat dilidahku, ibu tetap berusaha dengan berbagai cara agar aku mau makan makanan itu.

            "Sayang, ayo makan! Kamu tidak boleh mendzalimi dirimu sendiri. Tubuhmu membutuhkan nutrisi yang cukup agar kamu cepat sembuh dan cepat meniggalkan tempat ini,"

            Tak pernah ada bentakan, ibu selalu bersikap sabar kepada setiap anak-anaknya. Tapi kata-kata ibu tak sedikitpun mampu menggoyahkan pendirianku. "Aku tidak mau ibu, rasa makanan ini sama sekali tidak lezat, tidak sedikitpun,"

            Ibu menjawab dengan seulas senyum manis diwajahnya. "Sayang, sabar ya! Lakukan demi ibu nak, paling tidak untuk dirimu sendiri. Kesehatanmu sangat penting sayang. Ibu sangat sedih kalau kamu tidak mau makan seperti ini,"

            Mendengar suara ibu yang begitu kalem menasihatiku, hatiku luluh. Aku mulai membuka mulut untuk menyambut makanan yang tak pernah terasa enak ini masuk ke mulut melewati kerongkogan hingga sampai ke lambungku. Sikap ibu yang seperti inilah yang membuatku tak bisa bergerak, mematung.

            Beberapa saat setelah sarapan ibu keluar ruangan entah mengapa dan sesaat aku memejamkan mataku. Tiba-tiba tubuhku terasa semakin lemah, nafasku terengah-engah seperti orang yang berlari kencang kekurangan oksigen. Ketika aku mulai membuka mataku perlahan, semuanya terlihat samar, tak ada yang jelas. Aku berusaha melirik ke segala penjuru ruangan, berharap aku menemukan sosok ibu dalam kondisi tubuhku yang seperti ini. Rasanya seperti melayang, jiwa dan raga terpisah jauh namun aku masih dalam keadaan sadar walau hanya sedikit. Aku mencoba menggerakkan jariku merambat mencari tombol darurat agar dokter segera memeriksaku, mengetahui kondisiku. Apalah daya ketika aku tak sanggup bergerak, mengangkat penuh tangankupun sangat berat seperti memikul benda yang beratnya melebihi berat badanku sendiri. Terdengar samar seseorang membuka pintu ruangan ini, tak ada yang kuharapkan selain ibu. Aku membutuhkan Ibu sekarang.

            Syukurlah Allah mendengar doaku. Ibu langsung berlari memelukku ketika beliau melihatku sekarat. Pita suara tiba-tiba menghilang aku tak bisa bicara, aku tak bisa memberi tahu rasa sakit seperti apa yang sedang aku rasakan, hanya air mata yang mampu mengungkapkan segala rasa sakit ini. Ibu yang berlarian mencari bantuan terlihat sangat khawatir. Beliau tak hanya meneteskan air mata namun air mata itu sudah deras mengalir ke pipi lembutnya.

            Bisikan ibu membuatku menjadi lebih nyaman dan lebih tenang. "Dokter sedang menuju ke sini sayang. Tahanlah sebentar ya! Ibu sangat mncintaimu," Air mata ibu menetes diwajahku, aku merasakan kesedihan ibu yang sangat mendalam ketika melihatku seperti ini.

            Ibu, kau adalah wanita hebat yang pernah ku kenal, kau adalah orang yang rela berkorban demi apapun untuk orang yang kau cintai. Aku sungguh bangga lahir dari rahim seorang ibu sepertimu. Maafkan aku yang belum bisa membalas segala jasamu, segala pengorbananmu.

            Dekapan terakhir ibu terasa lebih hangat. Maaf ibu aku sudah tidak kuat lagi untuk berjuang, aku sudah lelah menunggu hingga dokter itu datang, penyakit paru-paru basah yang akut memang sulit untuk disembuhkan, aku sangat menyadarinya. Terimakasih ibu, kau sudah mencintaiku, dan aku juga sangat mencintaimu lebih dari apapun, lebih :’). Sampai jumpa di surga, aku akan merindukanmu..



Sincerely
Windy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar