"Cukup! Aku tak ingin merusak persahabatnmu dengannya untuk kedua kali," Bentakan itu membuat hatiku tersentak.
Aku memandangnya begitu dalam berharap dapat menemukan titik lemahnya. "Aku tak pernah ada masalah lagi dengannya. Apa penjelasanku kurang jelas?" Aku menjawab dengan hati yang terbakar. Panas.
"Tapi aku tak mau kalian seperti ini hanya karenaku! Sudahlah, cukup di sini saja"
"Maksudmu?" Aku merasakan hal aneh (lagi) ini bukan pertama kalinya, bahkan mungkin untuk kesekian kalinya. Tapi entah kenapa aku membiarkan diriku masuk dalam lubang salah yang sama untuk kesekian kalinya, entah kenapa aku selalu luluh kepadamu untuk kesekian kalinya, dan untuk kesekian kalinya kamu berhasil membuatku mematung. Inikah yang disebut cinta tulus? Cinta suci dari hati? Aku terus menerus memaksa otakku menjawab segala pertanyanku. Tanpa kusadari bahwa saat ini aku dan kamu dalam putaran keheningan. Tak ada suara yang kamu katakan selain gerakan nafas yang terdengar, tak ada tindakan selain angin semilir yang tanpa permisi menggelitikku, tak ada apapun, kosong.
Aku mulai membuka mulut dan mengatakan sesuatu untuk memecah keheningan yang kian lama kian menyerang tanpa perlawanan. "Aku tau maksudmu sekarang," Ucapku lirih.
"Jadi kau bisa mengerti keadaanku bukan?"
"Boleh aku bertanya padamu?"
"Kenapa tidak? Katakan saja"
"Kalau kau benar-benar mencintaiku kenapa kau tetap saja berpikir bahwa kau adalah tersangka dalam pecahnya persahabatanku? Diapun sudah merelakanmu padaku, dan aku berjanji membuatmu bahagia bersamaku,"
"Kau ingin aku jawab jujur?"
Nada suaranya mulai menyerang ulu hatiku, nyeri. "Tentu saja,"
"Aku juga mencintainya,"
"Jadi? Selama ini? Kau?"
"Ya. Kau benar. Dan ini adalah kenyataan. Sekarang kau tahu apa alasanku mengambil keputusan seperti ini. Aku hanya bingung dengan perasaanku sendiri,"
Mendengar pernyataan itu, hati wanita mana yang tak sakit? Berbagi cinta dengan sahabat sendiri? Mimpi buruk, ini benar-benar mimpi buruk. Aku tak tahu harus merespon apa dan bagaimana. Aku terlalu sibuk mengatur nafasku yang terhenti tepat di tenggorokkan, jantungku tak berfungsi, semua serasa luntur tepat di depan mataku.
"Aku tidak akan memilih kalian. Sampai salah satu dari kalian mempunyai pasangan. Kau paham dengan apa yang aku bicarakan?"
"Iya," Cukup jelas bagiku.
Betapa PD-nya pria ini? Apakah dia mencoba mempermainkan perasaanku?--Batinku.
Langit tampak cerah, sang bagaskara tertawa riang menyinari alam semesta. Burung-burung berkicau ria dan kupu-kupu beterbangan kecil menjaili bunga bermahkota indah di taman yang sedang aku tempati sekarang. Mereka begitu jahat, mereka berpesta pora di atas penderitaanku yang makin memuncak. Semut kecil yang berjalan merambat di tepi air mancur itu menertawaiku. Aku sungguh merasa terpojokkan. Dimana keadilan sesungguhnya?
"Kau baik-baik saja?"
"......"
"Hey Alice! Kau tak apa?"
"Ya. Tentu,"
"Aku tahu ini bukan hal yang mudah, beberapa hari kedepan aku akan menemuimu di tempat yang sama. Berfikirlah!"
"Eh~"
Pria berkemeja kotak-kotak merah itu tiba-tiba meninggalkanku di sini, sendirian. Dia tak menengok ke belakang sedikitpun. Dimana pria yang selama ini ku kenal? Ditelan bumi? Diculik alien penghuni planet mars? Atau hanyut ditelan ganasnya ombak laut? Aku membasahi pipiku sendiri, aku membiarkan make-up ini luntur begitu saja, aku tak peduli sejelek apa ketika aku menangis, aku....terlalu lemah untuk merasakan sakit ini sendirian. Kembalilah tolong! Dekap aku.
Jadi kapan kau bisa melihatku sejelas kau melihat dia tanpa ku?
*bersambung*
*bersambung*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar