Jangan menjadikan dirimu sebagai PLAGIAT !!! Hargai karya orang lain :)

Kamis, 18 April 2013

Menyesakkan (2)



Cerita Sebelumnya : Menyesakkan (1)

Duduk diam sambil menikmati suasana yang mendung di taman ini memang tidak begitu menyenangkan. Apalagi segala bunga warna-warni ini terus memaksaku untuk mengenang dan mengingat kala itu. Semut-semut yang berbaris rapi di tepi bangku yang aku duduki berbisik kecil tentangku yang terlalu bodoh untuk menunggu orang yang tak pasti. Kupu-kupu yang setiap hari berterbangan di atas bunga itu juga ikut menertawakanku. Aku masih mengingatnya betul bagaimana sikapmu terakhir kali bertemu di sini. Kamu meninggalkan dan mencampakkanku begitu saja. Tak ada salam perpisahan ataupun sekedar menolehpun kamu enggan. Seperti biasanya dan seperti yang kamu katakan, aku menunggumu setiap sore di sini. Walaupun aku tidak tahu kapan kamu akan menyadari kehadiranku untukmu.

Berjam-jam; sejak sepulang sekolah tadi aku tetap berada pada bangku yang dulunya adalah bangku tua favorit kita. Menunggu memang sangat membosankan. Tapi menunggu untuk seseorang yang kita cintai? Setidaknya masih bisa dikatakan menyenangkan. Aku masih sibuk dengan fikiranku yang terus menghibur diriku sendiri dan selalu berfikir positif terhadapmu, tentangmu.

“Sudah lama?” Suara itu sangat kukenal dan aku yakin suara ini adalah suara pria itu. Pria yang meninggalkanku sendiri, pria yang (juga) mencintai sahabatku, pria yang kutunggu.

“Tentu,” Jawabku singkat.

“Maafkan aku, telah membuatmu menunggu lama,”

“Tak apa. Aku lebih suka menunggumu kembali daripada harus menunggumu untuk pergi,”

“Maafkan aku Alice. Aku sadar sekarang,”

“Dua kali kamu sudah minta maaf, untuk apa lagi sekarang?

“Seharusnya aku tak perlu mencintai dia. Karena aku sudah memilikimu,”

“Lalu?”

“Aku ingin kamu kembali bersamaku. Melupakan pertemuan kita beberapa hari yang lalu. Menganggap peristiwa itu hanya sebuah mimpi,”

Keheningan mulai merambati suasana sekitar aku dan Jo. Kami diam hingga beberapa menit. Tak ada kata yang terucap, tak ada tindakan yang perlu ditunjukkan. Diam seperti patung.

Aku berusaha keras berpikir bagaimana aku menanggapi pria ini. Pria yang terlalu kejam, pria yang sering melukaiku, pria yang masih tetap aku cintai. “Mudah sekali kamu berkata seperti itu?”

“Apa aku salah?”

“Aku tidak menyalahkanmu, aku bertanya padamu. Kamu fikir aku boneka yang tak pernah mempunyai hati dan perasaan? Yang tak pernah tahu bagaimana sakitnya ketika kamu mengucap kata itu? Yang tak pernah tahu bagaimana rasanya bahagia di saat bersamamu? Aku tidak bodoh, Jo!!”

“Apa yang harus kuperbuat sekarang?”

“Kamu bertanya padaku? Ku fikir kamu cukup pintar menyakiti perasaan seorang wanita, tapi kamu terlalu bodoh memahami perasaanmu sendiri. Sudahlah Jo, aku tidak ingin seperti  ini,”

“Aku serius dengan apa yang kukatakan padamu, Alice. Aku tidak berbohong,”

“Aku juga serius, Jo,”

Tiba-tiba pria itu mendekapku. Hangat. Masih hangat sama seperti dekapannya kemarin. Beberapa bulan yang lalu. Aku merindukan saat-saat seperti ini. Sungguh aku merindukannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku suka dia memelukku seperti ini.

“Maafkan aku. Sungguh aku minta maaf padamu. Aku memang begitu kejam. Maafkan aku,” bisiknya pelan menggelitik telingaku.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?” Aku mencoba melepaskan diri dari dekapan hangatnya secara perlahan.

“Tak banyak. Kamu,”

“Bohong!”

“Aku jujur. Aku tidak sedang berbohong sekarang,”

Bola matanya menatapku dengan tegas. Mencoba menjelaskan kepadaku tentang kejujuran yang telah ia ungkapkan. Aku semakin gila karenanya. Akupun terlalu takut untuk kehilangannya, membiarkannya pergi bersama orang lain, membiarkannya meraih masa depan tanpa aku yang berada di sisinya, dan membiarkannya hidup tanpaku. Keadaan mulai memanas. Aku lemah akan pikiran dan perasaanku padanya.

“Aku masih mencintaimu, Jo!”

“Aku juga. Jadi biarkan aku bersamamu. Bertanggungjawab atas kesempatan yang kamu berikan padaku kali ini,”

Suasana senja kali ini cukup berbeda. Matahari terbenam sangat sempurna, langit semburat kuning dan oranye yang menyala menambah keelokannya. Aku berteriak lantang dalam hatiku bahwa Aku mencintainya…sungguh :’) - END

Minggu, 07 April 2013

Kala Adzan Maghrib


Sang bagaskara mulai mengucap salam perpisahan
Awan-awan berarak baralih kemana angin membawanya melangkah
Sinar kuning semburat oranye menyorot tepat di depan mata
Terdengar sayup seseorang melantunkan asma-Nya yang Maha Kuasa
Menentramkan hati menenangkan jiwa bak nyanyian surga
Lembut nadanya indah diperdengarkan
Aku bersimpuh menyebut namaMu, Tuhan
Menengadahkan kedua tangan berserah kepadaMu
Ku mohon peganglah ‘dia’ dalam erat tanganMu
Awasi segala gerakan tubuhnya dengan penglihatanMu
Dengarkan segala keluhnya dengan pendengaranMu
Lindungi ‘dia’ dalam keadaan bagaimanapun dan kapanpun
Tolong jagalah cinta yang Kau titipkan padanya untukku




Untuk :
seseorang yang selalu menggilai berbagai macam kegiatan
seseorang yang selalu lupa waktu makan
seseorang yang membuatku gila tak karuan
seseorang yang selalu kurindukan


Big Hug
Windy :)


Kamis, 04 April 2013

KAMU


malam semu membiru
indahnya sang langit tertutup awan kelabu
bagai haru yang menutup relung hatiku
yang meneteskan air mata pilu
membasahi keringnya qalbu
membuatku ingat akan dirimu
samar-samar terbayang wajahmu difikirku
jauh ... dalam kejauhan anganku
terlintas hasrat yang ingin menggapaimu
Menggapai hayal indah penuh anugrah
hanya ...
hanya bersenandung denganmu

Sincerely :

Windy & Adimas :)

Senin, 01 April 2013

Untitled


Hai Pria berjambul khatulistiwa yang cetar membahana di hati dan fikiranku! Bagaimana kabarmu? Terasa bagaimana hari-harimu tanpaku?

Sudah lama sejak beberapa hari yang lalu aku dan kamu kehilangan kontak komunikasi. Hari-hariku terasa amat panjang saat aku melewatinya sendirian, tanpa dekapan hangatmu. Aku yakin kamu merasakan hal yang sama denganku, walaupun kamu terlihat bahagia tanpaku disisimu. Aku masih ingat apa yang terjadi antara kita waktu lalu dan merasa sakit ketika seseorang menyebutkan namamu, menanyakan dimana keberadaanmu padaku. Entah sampai kapan aku bisa memperbaiki pandangku terhadapmu sebagai seorang teman, bukan sebagai kekasihmu (lagi).

Sadarkah ketika kamu mengucap beberapa kalimat yang begitu menyayat hatiku? Ah ya aku lupa. Kamu adalah seseorang yang sangat mudah melupakan sesuatu terlebih masalah skandal hidup yang berusaha melilit untuk membunuhmu.

Hai Pria keren yang diidolakan tiap wanita! Kamu terlalu pintar menutupi segala kebodohan, kemunafikan, dan kesedihan yang merangkul erat fikiranmu setiap hari. Kamu terlalu pelit untuk membagi cerita pahit itu kepadaku. Usahaku untuk membuatmu lebih terbuka ternyata tak berbuah manis sedikitpun. Tapi kamu terlalu terbuka untuk bercerita banyak hal tentang gadis-yang-kamu-bandingkan-denganku. Kenapa kamu memberiku cerita yang mengerikan? Aku bukan siapa-siapamu lagi bukan? Tak lebih dari masa lalumu. Walaupun aku tak pernah bisa menghilangkan perasaan yang terus memutar balikkan hatiku kepadamu. Aku juga manusia ciptaan Tuhan yang dibekali akal dan perasaan. Kau kira aku seorang patung cantik bak roro jonggrang yang bisa kamu mainkan dalam mozaik kehidupanmu? Atau hanya wayang yang kamu jadikan pelampiasan kejenuhan harimu?

Aku lupa. Sungguh benar-benar lupa siapa kamu, makhluk ciptaan Tuhan yang bagaimanakah kamu? Seperti apa Tuhan memberikan karakter dalam hidup? Aku tidak ada niat untuk berbalas dendam terhadapmu, seujung kukupun tidak. Aku hanya butuh keadilan darimu Pria manis, tidak lebih. Namun bukankah cara seperti itu yang kamu berikan padaku? Bukankah seperti itulah sikapmu di depanku? Jadi apakah salah jika aku memperlakukanmu sebagaimana kamu mempermainkanku? Setidaknya kita sudah berusaha menyeimbangkannya bukan? Dan kufikir cukup seimbang.


Hai Pria beralis tebal yang belum bisa ku-enyahkan dalam tatapan mata,
Aku merindukan suaramu, aku merindukanmu :’)