Cerita Sebelumnya : Menyesakkan (1)
Duduk diam sambil menikmati suasana yang mendung
di taman ini memang tidak begitu menyenangkan. Apalagi segala bunga warna-warni
ini terus memaksaku untuk mengenang dan mengingat kala itu. Semut-semut yang
berbaris rapi di tepi bangku yang aku duduki berbisik kecil tentangku yang
terlalu bodoh untuk menunggu orang yang tak pasti. Kupu-kupu yang setiap hari
berterbangan di atas bunga itu juga ikut menertawakanku. Aku masih mengingatnya
betul bagaimana sikapmu terakhir kali bertemu di sini. Kamu meninggalkan dan
mencampakkanku begitu saja. Tak ada salam perpisahan ataupun sekedar menolehpun
kamu enggan. Seperti biasanya dan seperti yang kamu katakan, aku menunggumu
setiap sore di sini. Walaupun aku tidak tahu kapan kamu akan menyadari
kehadiranku untukmu.
Berjam-jam; sejak sepulang sekolah tadi aku tetap
berada pada bangku yang dulunya adalah bangku tua favorit kita. Menunggu memang
sangat membosankan. Tapi menunggu untuk
seseorang yang kita cintai? Setidaknya masih bisa dikatakan menyenangkan.
Aku masih sibuk dengan fikiranku yang terus menghibur diriku sendiri dan selalu
berfikir positif terhadapmu, tentangmu.
“Sudah lama?” Suara itu sangat kukenal dan aku
yakin suara ini adalah suara pria itu. Pria yang meninggalkanku sendiri, pria
yang (juga) mencintai sahabatku, pria yang kutunggu.
“Tentu,” Jawabku singkat.
“Maafkan aku, telah membuatmu menunggu lama,”
“Tak apa. Aku lebih suka menunggumu kembali
daripada harus menunggumu untuk pergi,”
“Maafkan aku Alice. Aku sadar sekarang,”
“Dua kali kamu sudah minta maaf, untuk apa lagi
sekarang?
“Seharusnya aku tak perlu mencintai dia. Karena
aku sudah memilikimu,”
“Lalu?”
“Aku ingin kamu kembali bersamaku. Melupakan
pertemuan kita beberapa hari yang lalu. Menganggap peristiwa itu hanya sebuah
mimpi,”
Keheningan mulai merambati suasana sekitar aku dan
Jo. Kami diam hingga beberapa menit. Tak ada kata yang terucap, tak ada
tindakan yang perlu ditunjukkan. Diam seperti patung.
Aku berusaha keras berpikir bagaimana aku
menanggapi pria ini. Pria yang terlalu kejam, pria yang sering melukaiku, pria
yang masih tetap aku cintai. “Mudah sekali kamu berkata seperti itu?”
“Apa aku salah?”
“Aku tidak menyalahkanmu, aku bertanya padamu.
Kamu fikir aku boneka yang tak pernah mempunyai hati dan perasaan? Yang tak
pernah tahu bagaimana sakitnya ketika kamu mengucap kata itu? Yang tak pernah
tahu bagaimana rasanya bahagia di saat bersamamu? Aku tidak bodoh, Jo!!”
“Apa yang harus kuperbuat sekarang?”
“Kamu bertanya padaku? Ku fikir kamu cukup pintar
menyakiti perasaan seorang wanita, tapi kamu terlalu bodoh memahami perasaanmu
sendiri. Sudahlah Jo, aku tidak ingin seperti
ini,”
“Aku serius dengan apa yang kukatakan padamu,
Alice. Aku tidak berbohong,”
“Aku juga serius, Jo,”
Tiba-tiba pria itu mendekapku. Hangat. Masih
hangat sama seperti dekapannya kemarin. Beberapa bulan yang lalu. Aku
merindukan saat-saat seperti ini. Sungguh aku merindukannya. Aku tidak bisa
berbuat apa-apa karena aku suka dia memelukku seperti ini.
“Maafkan aku. Sungguh aku minta maaf padamu. Aku
memang begitu kejam. Maafkan aku,” bisiknya pelan menggelitik telingaku.
“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?” Aku
mencoba melepaskan diri dari dekapan hangatnya secara perlahan.
“Tak banyak. Kamu,”
“Bohong!”
“Aku jujur. Aku tidak sedang berbohong sekarang,”
Bola matanya menatapku dengan tegas. Mencoba
menjelaskan kepadaku tentang kejujuran yang telah ia ungkapkan. Aku semakin
gila karenanya. Akupun terlalu takut untuk kehilangannya, membiarkannya pergi
bersama orang lain, membiarkannya meraih masa depan tanpa aku yang berada di
sisinya, dan membiarkannya hidup tanpaku. Keadaan mulai memanas. Aku lemah akan
pikiran dan perasaanku padanya.
“Aku masih mencintaimu, Jo!”
“Aku juga. Jadi biarkan aku bersamamu.
Bertanggungjawab atas kesempatan yang kamu berikan padaku kali ini,”
Suasana senja kali ini cukup berbeda. Matahari
terbenam sangat sempurna, langit semburat kuning dan oranye yang menyala
menambah keelokannya. Aku berteriak lantang dalam hatiku bahwa Aku mencintainya…sungguh :’) - END
Nice story, keep working hard kid
BalasHapus