“Alasanku
bisa bangkit kembali adalah sebuah penyesalan”
Beberapa
bulan yang lalu, berjuta detik yang lalu peristiwa itu terjadi. Peristiwa yang
kutakutkan. Kata yang sangat pantang kuucap pada sebuah hubungan. Putus. Kata
itu terlontar dari mulutku dengan berjuta alasan yang menyertai. Sungguh tak
pernah kusangka bagaimana aku bisa mengatakannya padamu...pada pria yang sangat
ku cinta, sangat ku banggakan.
Tuan.....bagaimana
kabarmu sekarang? Sudah menemukan sosok yang baru? Sudah menemukan kebahagiaan
yang baru? Bagaimana rasanya? Lihatlah bagaimana aku masih peduli padamu, tuan.
Hatiku masih menyimpan dengan baik sosokmu yang kini menjadi (mungkin) milik
seseorang. Memang sedikit menyesal ketika aku memutuskan untuk berpisah dan
berjuang di jalan masing-masing. Aku sedikit khawatir apakah kamu yang selalu
berkata mecintaiku akan menemukan kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan yang
kuberikan padamu. Aku juga selalu berpikir bagaimana bisa aku melewati hari
menyapa matahari dan rembulan tanpamu lagi. Dua ribu duabelas hingga dua ribu
lima belas sosokmu masih tetap menyeruak dalam jiwaku. Sosokmu juga masih
mencuri perhatianku setiap hari. Kamu ingat bagaimana ketika kita sedang beradu
mulut? Kau ingat bagaimana kita saling mengalah? Ingatkah berapa banyak
kenangan yang telah kita bangun selama beberapa bulan terakhir ini? Kenangan
itu selalu membuatku rindu, semakin pilu.
Tapi
yasudahlah. Semua telah berlalu. Aku telah melepas tali yang melilit tubuhmu
yang kecil itu. Aku juga sudah merusak kekokohan benteng yang menjadikanmu
tertahan menghalangi segala tindakanmu. Aku telah merelakanmu untuk mencari
kebahagiaanmu sendiri dan berhenti menjadikanmu “boneka” yang selalu
membahagiakanku meskipun luka tergores pelan dalam hatimu. Aku berusaha sebisa
mungkin membiarkanmu pergi mejelajah duniamu yang baru tanpa sertaku. Sekarang
kau bebas, sekarang kau bisa berbuat dan melakukan apa yang kau inginkan tanpa
ada suara rengekanku lagi.
Beberapa
hari yang lalu, aku dengar kabar dari seseorang. Ku dengar kau sudah
mendapatkan pengganti untuk posisiku. Bagaimana dia? Baikkah? Kata seseorang
dia adalah gadis mungil nan lucu. Parasnya tak jauh beda denganku. Pipi tembem
dan mata yang sipit merupakan ciri khas sosok gadis yang sedang mencoba
mengambil alih posisiku (dulu). Aku tahu dia mungkin tak sebaik aku. Atau
mungkin sebaliknya. Percayalah siapapun dia bagaimanapun dia, dia selalu
berusaha menjadi yang terbaik untukmu, mencoba selalu ada ditiap langkahmu.
Jadi kumohon jangan pernah kau kecewakan dan hanya memberi harapan kosong
padanya. Sekarang yang dia tahu hanyalah cinta padamu. Dia belum tahu bagaimana
sikap dinginmu yang terus membekukan keadaan, dia belum tahu bagaimana sikapmu
ketika perhatian telah terbagi, dia belum tahu bagaimana sakitnya merasakan
sepi yang berusaha menyelimuti. Bergantinya status “kita” bukan berarti
putusnya ku berdoa, kelak sosok ini akan merubahmu menjadi pria manis nan
berwibawa, kelak sosok ini akan terus mencurahkan segala perhatian, dan sosok
ini lah yang akan selalu mengerti bagaimana kesibukkanmu menjalani hari. Dari
sekian banyak harapan yang kuucap sebuah kalimat dalam doa tak pernah luput ku
lantunkan “Semoga hanya aku yang bisa membaca segala keburukanmu”
Salam,
Gadismu
(dulu)
yaelah mbak
BalasHapushahaha tulisanku menggelikan :3
Hapusehemmmmmm
BalasHapushemmm dian hemmm
HapusDududududuudu
BalasHapuseh mbaaaaak wqwq
HapusDek windy
BalasHapusiya kak kar? :)
HapusHmmmmmm orang2 dekatmu tebakannya sama plncs
BalasHapusykpo nai maksude?
Hapus